Selasa, 26 November 2013

AKU, KAMU DAN HUJAN..



Rabu, 13 ovember 2013 (15.27)


Hujan mengguyur malang, sekali lagi. Aku merindukanya. Rintik hujan ini. Kamarku gelap total karena lampu yang tak kunjung menyala sedari pagi. Jujur perasaanku tak karuan. Entah bagaimana aku menjelaskannya.
“Makasih ya mas.. Maaf untuk kesalahan kemarin..”

Pesan singkat itu ku kirim untuknya. Semoga mampu menemani perjalanannya pulang ke Blitar hari ini. Ditengah hujan yang tengah menghujam hebat tak kenal ampun. Semoga pesan tak seberapa itu mampu menghangatkan tubuhnya yang kini terbalut mantel berwarna biru. Sekarang pukul 15.27 dan aku merasa tetap dingin setelah berada dikamar dan ditemani perasaan yang tak menentu. Aku ambil laptop disampingku, baterainya masih cukup kufikir untuk menulis ini untuknya.
Hari ini, ia nekat datang ke malang. Meski ia tau hari liburnya hanya sehari. Entahlah, aku tak mampu mengerti tujuan ia datang. Apa karna sudah sekitar seminggu kita bertengkar. Dan karena pertengkaran itu aku tak menanggapi telfon dan smsnya. Bahkan aku tak menghiraukan pesan yang ia kirim melalui facebook dan aku menghapusnya dari pertemanan.
Persoalannya sepele memang. Dan aku marah. Hanya karna kita tak bisa berkomunikasi dengan baik. Ditambah lagi kebiasaan lamaku, memakinya. Aku sungguh terbawa emosi sat itu. Sebenarnya begitulah aku dalam menghadapi setiap masalah. Aku sungguh tak tega dan selalu tenggelam dalam rasa bersalah tiapkali ia menjadi sasaran empuk kemarahanku. Kata-kata kasar saat aku terbalut emosi kusadarai tak akan bisa kuhapus dari memorinya. Saat kita bertengkar waktu itu, iapun mungkin tersulut emosi sehingga berkata sedikit kasar. Aku sadar, siapapun pasti marah jika kuperlakukan sama. Selama hampir 3 tahun aku mengenalnya, baru kali ini ia bicara sekasar itu. Aku tau maksudnya adalah untuk mengingatkanku agar tak bersikap seperti itu. Aku pun tau ia punya niat baik terhadapku.  Dan karna emosi masing2, masalah ini tak terselesaikan saat itu juga. Luar biasanya dia adalah, saat itu juga ia langsung minta maaf dan masih sempat berkata ia sayang padaku. Padahal jelas, akulah yangg bersalah. Ya, begitulah kami jalani selama tiga tahun ini
Bukan sekali ini di menjadi sasaran mulut pedasku saat aku marah. Bukan juga sekali dua kali ia menerimanya dengan sabar. Ia hanya berharap aku berubah. Aku berusaha, tapi masih tetap saja. Kalau saja terlihat mungkin sudah banyak paku yangg tertancap di hatinya. Paku yang ibarat kata-kata kejamku terhadpnya, membuat ia terluka. Aku hanya sering berfikir, ia lelaki yang sangat baik sehingga aku memang harus melepasnya. Ada satu kata darinya yang selalu akan ku ingat “Memang sakit rasanya diperlakukan seperti ini, tapi mas tau akan lebih sakit klau adek pergi, jadi ndak apa-apa diperlakukan seperti apapun asal adek tetep ada”.
Dia adalah satu orang yang selalu sanggup mengalah untukku. Mengalah untuk bersabar saat sikapku tak baik. Mengalah untuk selalu mendengar keluh kesahku dan menyimpan miliknya sendiri. Mengalah untuk selalu kurepotkan. Mengalah untuk lebih mencintaiku dan bertahan. Aku sudah meyakinkannya bahwa aku bukan orang yang tepat.  Tapi ia tetap keras kepala. Dan inilah hasil hubungan kita, yang berhasil bertahan karenanya. Karena ia selalu menglah dan bersedia tersakiti.
Pagi ini jam 10an ia tiba di Malang. Ia mengajakku jalan-jalan. Sebelum itu ia mengantarku makan dan mampir kemasjid untuk sholat duhur. Perjalanan kami lanjutkan ke alun-alun kota. Disna adalah salah satu tmpat yg kusukai. Ramai, sejuk dan banyak kenanganku bersamanya. Sebelum duduk dibangku taman ia mengajakku berkeliling toko untuk menemaniku mencari sepatu. Beberapa hari yaang lalu sebelum kami bertengkar aku memang sempat bilang ingin beli sepaatu. Setelah berkeliling Selama sekitr satu jam. Kami langsung menuju bangku taman. Membeli minum dan cemilan. Sejuk rasanya.
Aku tau ia sulit berkata maaf, tapi aku paham beginilah caranya meminta maaf. Dengan membuatku merasa senang. Dia meminta maaf dan aku memaafkannya. Dalam hati kecilku, aku berfikir seharusnya akulah yang meminta maaf darinya. Tapi ya.. sudahlah, begitulah kami 3 tahun ini. Meski aku yang salah ialah yang selalu meminta maaf.
Kami mengobrol banyak hal. Ia terlihat lelah meski ia tak mengakuinya. Bagaimana tidak, ia sering pulang pergi Blitar-Malang karenaku. Aku hanya terus berusaha membuatnya tersenyum. Tak banyak hal penting yang kami bicarakan, tapi aku senang. Dan kuharap ia juga demikian. Udara siang ini sangat sejuk. Angin semilir, balon-blon berterbangn, tak ketinggalan pengamen yg ssekali lewat.
Sebelum jam 3 sore, kami memutuskan untuk pulang. Gumpalan awan seolah memberi signal untuk segera bergegas karena hujan sebentar lagi datang. Kami memakai mantel lalu bersiap pulang. Awan semakin terlihat hitam, dan benar saja tak berselang lama hujan turun. Sangat deras. Aku merasakan baju dan celanaku mulai basah. Wajahku seperti kena tamparan-tamparan kecil sang air. Banjir terlihat dimana-mana. Kami berpacu dengan hujan dan waktu. Hujan ini tak membuat kami kecewa karena  hari ini berakhir seperti ini. Justru hujan ini membuat hari ini sempurna. Ditengah mantel yang tak mampu melawan hujan untuk masuk, kami bercanda tawa. Entah kenapa hujan kali ini terasa berbeda. Terasa seperti ia ingin memberi hari yang indah untukku dan untuk mas, satu hari ini saja. Disepanjang jalan ada saja yang kami tertawakan. Mulai dari beberapa pengendara motor yang basah kuyup karena tak menggunakan mantel, banjir disetiap gang yang kami lewati, polisi yg tak mau kena hujan, sampai toko-toko yang terkena banjir. Semua membuat kami tertawa.
Sebelum sampai kosku kami mampir disebuah masjid untuk sholat ashar. Namun aku hanya menunggu diluar karena bajuku basah kuyup. Setelah ia selesai sholat aku memberikan jaketku untuk dipakainya karena jaketnya yang sedikit bawah. Ia memakai jaketku yang sedikit kecil itu lalu dilapisi jaketnya. Lantas kami bersiap melanjutkan perjalanan. Sekitar tiga menit kemudian kami sampai dikosku. Aku senang, dan sedikit khawatir karena memikirkannya yang harus pulang dalam keadaan seperti ini. “Terimakasih ya mas.. tlg hati2 dijalan”. Ia hanya mengangguk dan tersenyum. Aku berat melepasnya pergi, aku hanya khawatir.
Tak berselang lama iapun lenyap dari pandanganku. Aku telusuri gang kecil menuju kos ku sembari melindungi tas dengan tangan ku. Sesekali aku berbalik ke belakang. Entah apa yang kufikirkan. Aku berjalan perlahan. Aku harus berubah, untuk tak lagi menyakitinya, fikirku. Aku mendongak ke atas, pasrah begitu saja menerima hujan yang membasuh wajahku dengan pukulan-pukulan kecil dan kasar. Di gang kecil menuju kos ku ini aku berjanji, aku akan berubah.
“Terimakasih mas..” ku akhiri perjalanan hari ini dengan senyum dan kekhawatiranku terhadapnya. Semoga Tuhan menjagamu sampai rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar