Hujan mengguyur malang, sekali lagi. Aku merindukanya.
Rintik hujan ini. Kamarku gelap total karena lampu yang tak kunjung menyala sedari
pagi. Jujur perasaanku tak karuan. Entah bagaimana aku menjelaskannya.
“Makasih ya
mas.. Maaf untuk kesalahan kemarin..”
Pesan singkat itu ku kirim untuknya. Semoga mampu
menemani perjalanannya pulang ke Blitar hari ini. Ditengah hujan yang tengah
menghujam hebat tak kenal ampun. Semoga pesan tak seberapa itu mampu
menghangatkan tubuhnya yang kini terbalut mantel berwarna biru. Sekarang pukul
15.27 dan aku merasa tetap dingin setelah berada dikamar dan ditemani perasaan
yang tak menentu. Aku ambil laptop disampingku, baterainya masih cukup kufikir
untuk menulis ini untuknya.
Hari ini, ia nekat datang ke malang. Meski ia tau hari
liburnya hanya sehari. Entahlah, aku tak mampu mengerti tujuan ia datang. Apa
karna sudah sekitar seminggu kita bertengkar. Dan karena pertengkaran itu aku
tak menanggapi telfon dan smsnya. Bahkan aku tak menghiraukan pesan yang ia
kirim melalui facebook dan aku menghapusnya dari pertemanan.
Persoalannya sepele memang. Dan aku marah. Hanya karna
kita tak bisa berkomunikasi dengan baik. Ditambah lagi kebiasaan lamaku,
memakinya. Aku sungguh terbawa emosi sat itu. Sebenarnya begitulah aku dalam
menghadapi setiap masalah. Aku sungguh tak tega dan selalu tenggelam dalam rasa
bersalah tiapkali ia menjadi sasaran empuk kemarahanku. Kata-kata kasar saat
aku terbalut emosi kusadarai tak akan bisa kuhapus dari memorinya. Saat kita
bertengkar waktu itu, iapun mungkin tersulut emosi sehingga berkata sedikit
kasar. Aku sadar, siapapun pasti marah jika kuperlakukan sama. Selama hampir 3
tahun aku mengenalnya, baru kali ini ia bicara sekasar itu. Aku tau maksudnya
adalah untuk mengingatkanku agar tak bersikap seperti itu. Aku pun tau ia punya
niat baik terhadapku. Dan karna emosi
masing2, masalah ini tak terselesaikan saat itu juga. Luar biasanya dia adalah,
saat itu juga ia langsung minta maaf dan masih sempat berkata ia sayang padaku.
Padahal jelas, akulah yangg bersalah. Ya, begitulah kami jalani selama tiga
tahun ini
Bukan sekali ini di menjadi sasaran mulut pedasku saat
aku marah. Bukan juga sekali dua kali ia menerimanya dengan sabar. Ia hanya
berharap aku berubah. Aku berusaha, tapi masih tetap saja. Kalau saja terlihat
mungkin sudah banyak paku yangg tertancap di hatinya. Paku yang ibarat
kata-kata kejamku terhadpnya, membuat ia terluka. Aku hanya sering berfikir, ia
lelaki yang sangat baik sehingga aku memang harus melepasnya. Ada satu kata
darinya yang selalu akan ku ingat “Memang
sakit rasanya diperlakukan seperti ini, tapi mas tau akan lebih sakit klau adek
pergi, jadi ndak apa-apa diperlakukan seperti apapun asal adek tetep ada”.
Dia adalah satu orang yang selalu sanggup mengalah
untukku. Mengalah untuk bersabar saat sikapku tak baik. Mengalah untuk selalu
mendengar keluh kesahku dan menyimpan miliknya sendiri. Mengalah untuk selalu
kurepotkan. Mengalah untuk lebih mencintaiku dan bertahan. Aku sudah
meyakinkannya bahwa aku bukan orang yang tepat.
Tapi ia tetap keras kepala. Dan inilah hasil hubungan kita, yang berhasil
bertahan karenanya. Karena ia selalu menglah dan bersedia tersakiti.
Pagi ini jam 10an ia tiba di Malang. Ia mengajakku
jalan-jalan. Sebelum itu ia mengantarku makan dan mampir kemasjid untuk sholat
duhur. Perjalanan kami lanjutkan ke alun-alun kota. Disna adalah salah satu
tmpat yg kusukai. Ramai, sejuk dan banyak kenanganku bersamanya. Sebelum duduk
dibangku taman ia mengajakku berkeliling toko untuk menemaniku mencari sepatu.
Beberapa hari yaang lalu sebelum kami bertengkar aku memang sempat bilang ingin
beli sepaatu. Setelah berkeliling Selama sekitr satu jam. Kami langsung menuju
bangku taman. Membeli minum dan cemilan. Sejuk rasanya.
Aku tau ia sulit berkata maaf, tapi aku paham
beginilah caranya meminta maaf. Dengan membuatku merasa senang. Dia meminta maaf
dan aku memaafkannya. Dalam hati kecilku, aku berfikir seharusnya akulah yang
meminta maaf darinya. Tapi ya.. sudahlah, begitulah kami 3 tahun ini. Meski aku
yang salah ialah yang selalu meminta maaf.
Kami mengobrol banyak hal. Ia terlihat lelah meski ia
tak mengakuinya. Bagaimana tidak, ia sering pulang pergi Blitar-Malang karenaku.
Aku hanya terus berusaha membuatnya tersenyum. Tak banyak hal penting yang kami
bicarakan, tapi aku senang. Dan kuharap ia juga demikian. Udara siang ini
sangat sejuk. Angin semilir, balon-blon berterbangn, tak ketinggalan pengamen
yg ssekali lewat.
Sebelum jam 3 sore, kami memutuskan untuk pulang.
Gumpalan awan seolah memberi signal untuk segera bergegas karena hujan sebentar
lagi datang. Kami memakai mantel lalu bersiap pulang. Awan semakin terlihat
hitam, dan benar saja tak berselang lama hujan turun. Sangat deras. Aku merasakan
baju dan celanaku mulai basah. Wajahku seperti kena tamparan-tamparan kecil
sang air. Banjir terlihat dimana-mana. Kami berpacu dengan hujan dan waktu.
Hujan ini tak membuat kami kecewa karena
hari ini berakhir seperti ini. Justru hujan ini membuat hari ini
sempurna. Ditengah mantel yang tak mampu melawan hujan untuk masuk, kami
bercanda tawa. Entah kenapa hujan kali ini terasa berbeda. Terasa seperti ia
ingin memberi hari yang indah untukku dan untuk mas, satu hari ini saja.
Disepanjang jalan ada saja yang kami tertawakan. Mulai dari beberapa pengendara
motor yang basah kuyup karena tak menggunakan mantel, banjir disetiap gang yang
kami lewati, polisi yg tak mau kena hujan, sampai toko-toko yang terkena
banjir. Semua membuat kami tertawa.
Sebelum sampai kosku kami mampir disebuah masjid untuk
sholat ashar. Namun aku hanya menunggu diluar karena bajuku basah kuyup.
Setelah ia selesai sholat aku memberikan jaketku untuk dipakainya karena
jaketnya yang sedikit bawah. Ia memakai jaketku yang sedikit kecil itu lalu
dilapisi jaketnya. Lantas kami bersiap melanjutkan perjalanan. Sekitar tiga
menit kemudian kami sampai dikosku. Aku senang, dan sedikit khawatir karena
memikirkannya yang harus pulang dalam keadaan seperti ini. “Terimakasih ya mas.. tlg hati2 dijalan”. Ia hanya mengangguk dan
tersenyum. Aku berat melepasnya pergi, aku hanya khawatir.
Tak berselang lama iapun lenyap dari pandanganku. Aku
telusuri gang kecil menuju kos ku sembari melindungi tas dengan tangan ku.
Sesekali aku berbalik ke belakang. Entah apa yang kufikirkan. Aku berjalan perlahan.
Aku harus berubah, untuk tak lagi menyakitinya, fikirku. Aku mendongak ke atas,
pasrah begitu saja menerima hujan yang membasuh wajahku dengan pukulan-pukulan
kecil dan kasar. Di gang kecil menuju kos ku ini aku berjanji, aku akan
berubah.
“Terimakasih
mas..” ku akhiri perjalanan hari
ini dengan senyum dan kekhawatiranku terhadapnya. Semoga Tuhan menjagamu sampai
rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar