Minggu, 10 November 2013

Maaf, Untuk Teman Itu


Wooaaahhhh.. sudah lama rasanya tidak menulis apa-apa. Deadline, deadline dan deadline. Makanan itulah yang kurng lebih 4 minggu terakhir ini menjadi hal yang harus aku konsumsi. Penelitian, Perangkat pembelajaran, PKM, video pengajaran dan kawan-kawannya. Lelah rasanya. Tapi saat-saat seperti itulah yang membuat hidup menjadi lebih hidup. Lebih terasa menjadi mahasiswa.
Ada dua hal yang ingin kuceritakan hari ini. Bukan tentang aku, tapi tentang dua orang temanku.

Pertama Miss S yang tak lain adalah teman kampusku. Kaget bukan main. Hanya itu ekspresi yang kupunya saat salah seorang teman bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Miss S. Terhitung sekitar 5 hari Miss S menghilang, tidak ada kabar. Jujur, beberapa hari sebelumnya aku sempat punya masalah yang membuat kami tak saling bertegur sapa sampai akhirnya dia menghilang. Sepele memang, aku marah karna ia telat datang pada meeting kelompok penerjemah yang sudah 2 hari lalu kita sepakati. Lebih dari 30 menit ia telat. Aku bukan tipe orang yang tidak on time, tapi ku mungkin juga salah karna selalu mengukur orang lain dengan standar ku. Aku sempat memberinya nasehat “orang yang tidak menghargai waktu adalah orang yang tidak tau bahkan tidak mau menghargai diri sendiri, orang lain dan kehidupan”. Ia marah, barangkali caraku yang kurang tepat untuk menasehatiya. Aku hanya ingin ia berubah karna bukan sekali dua kali saja ia telat, di kelas bahkan di PPL. Tak jarang banyak teman-teman lain membicarakannya. Aku hanya tak ingin menyakitinya dengan ikut-ikutan untuk membicarakannya, itu alasan aku menasehatinya secara langsung.
Kembali ke cerita temanku pagi itu. Ia bercerita bahwa Miss S ternyata pulang ke kampung halaman karna ayahnya yang tiba-tiba sakit. Bukan hanya itu, ternyata ibu dari Miss S adalah salah seorang TKW di Arab Saudi. Beberapa hari yang lalu, Miss S mendapat kabar tentang ibunya yang ditahan oleh polisi karna dituduh menculik anak. Miss S yang anak sulung itu terpaksa pulang menjaga dua adiknya karna setelah mendengar kabar itu, ayahnya langsung jatuh sakit.
Ternyata itu jwabannya. Kenapa beberapa hari ini ia menghilang tak ada kabar. Kenapa juga ia membiarkan kami salah paham padanya. Aku berusaha menelfonnya pada saat itu juga. Tapi hasilnya sama, ia tak menjawab. Aku hanya ingin menanyakan apa ia baik-baik saja disana.
Masalah yang lain datang, Miss S dilaporkan oleh Dosen Pembimbing ke Kepala PPL karna tidak masuk PPL selama beberapa hari. Singkat cerita Dosen ini tidak mempercayai alasan Miss S yang sudah ia ceritakan. Dan akhirnya ia pun dipanggil untuk menghadap Kepala PPL. Ia menceritakan musibah yang tengah menimpa keluarganya dengan penuh airmata. Akhirnya Kepala PPL memaklumi dan membolehkan Miss S melanjutkan PPL dengan beberapa syarat.
Ada beberapa hal yang bisa untuk ku koreksi dari diriku sendiri. Pertama, jangan mengukur kemampuan orang lain berdasarkan kemampuanmu. Kedua, cobalah memaklumi setiap langkah temanmu. Ketiga, dan lagi-lagi sikap perfeksionismu menyakiti orang lain dan membuatu lelah.
Teman kedua ku adalah Mr. H.
Untuk temanku yang satu ini, ku benar-benar ingin minta maaf. Maaf karena membiarkanmu jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Maaf untuk membiakanmu ingkari janji untuk keluargamu. Maaf untuk tak sanggup memberimu motivasi ditengah-tengah kesibukanku. Maaf tak bisa sehari tiga kali mengirim sms padamu. Maaf untuk keputusasaanku yang tak lagi mengharapkan canda tawa denganmu. Maaf karena aku menyerah untuk mencari inspirasi selain darimu. Maaf untuk semua itu.. untuk keegoisanku sebagai teman, yang tak seharusnya ku lakukan.
Satu hal saja yang ingin ku tanyakan. Ada apa denganmu? Apa yang akan kau lakukan seandainya kau jadi aku? Merasakan posisi sulit ini..
Maaf..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar