Ada
dua hal yang ingin kuceritakan hari ini. Bukan tentang aku, tapi tentang dua
orang temanku.
Pertama
Miss S yang tak lain adalah teman kampusku. Kaget bukan main. Hanya itu
ekspresi yang kupunya saat salah seorang teman bercerita tentang apa yang
sebenarnya terjadi pada Miss S. Terhitung sekitar 5 hari Miss S menghilang,
tidak ada kabar. Jujur, beberapa hari sebelumnya aku sempat punya masalah yang
membuat kami tak saling bertegur sapa sampai akhirnya dia menghilang. Sepele
memang, aku marah karna ia telat datang pada meeting kelompok penerjemah yang
sudah 2 hari lalu kita sepakati. Lebih dari 30 menit ia telat. Aku bukan tipe
orang yang tidak on time, tapi ku mungkin juga salah karna selalu mengukur
orang lain dengan standar ku. Aku sempat memberinya nasehat “orang yang tidak
menghargai waktu adalah orang yang tidak tau bahkan tidak mau menghargai diri
sendiri, orang lain dan kehidupan”. Ia marah, barangkali caraku yang kurang
tepat untuk menasehatiya. Aku hanya ingin ia berubah karna bukan sekali dua
kali saja ia telat, di kelas bahkan di PPL. Tak jarang banyak teman-teman lain
membicarakannya. Aku hanya tak ingin menyakitinya dengan ikut-ikutan untuk
membicarakannya, itu alasan aku menasehatinya secara langsung.
Kembali
ke cerita temanku pagi itu. Ia bercerita bahwa Miss S ternyata pulang ke kampung
halaman karna ayahnya yang tiba-tiba sakit. Bukan hanya itu, ternyata ibu dari
Miss S adalah salah seorang TKW di Arab Saudi. Beberapa hari yang lalu, Miss S
mendapat kabar tentang ibunya yang ditahan oleh polisi karna dituduh menculik
anak. Miss S yang anak sulung itu terpaksa pulang menjaga dua adiknya karna
setelah mendengar kabar itu, ayahnya langsung jatuh sakit.
Ternyata
itu jwabannya. Kenapa beberapa hari ini ia menghilang tak ada kabar. Kenapa
juga ia membiarkan kami salah paham padanya. Aku berusaha menelfonnya pada saat
itu juga. Tapi hasilnya sama, ia tak menjawab. Aku hanya ingin menanyakan apa
ia baik-baik saja disana.
Masalah
yang lain datang, Miss S dilaporkan oleh Dosen Pembimbing ke Kepala PPL karna
tidak masuk PPL selama beberapa hari. Singkat cerita Dosen ini tidak
mempercayai alasan Miss S yang sudah ia ceritakan. Dan akhirnya ia pun
dipanggil untuk menghadap Kepala PPL. Ia menceritakan musibah yang tengah
menimpa keluarganya dengan penuh airmata. Akhirnya Kepala PPL memaklumi dan
membolehkan Miss S melanjutkan PPL dengan beberapa syarat.
Ada
beberapa hal yang bisa untuk ku koreksi dari diriku sendiri. Pertama, jangan
mengukur kemampuan orang lain berdasarkan kemampuanmu. Kedua, cobalah memaklumi
setiap langkah temanmu. Ketiga, dan lagi-lagi sikap perfeksionismu menyakiti
orang lain dan membuatu lelah.
Teman
kedua ku adalah Mr. H.
Untuk
temanku yang satu ini, ku benar-benar ingin minta maaf. Maaf karena
membiarkanmu jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Maaf untuk
membiakanmu ingkari janji untuk keluargamu. Maaf untuk tak sanggup memberimu
motivasi ditengah-tengah kesibukanku. Maaf tak bisa sehari tiga kali mengirim
sms padamu. Maaf untuk keputusasaanku yang tak lagi mengharapkan canda tawa
denganmu. Maaf karena aku menyerah untuk mencari inspirasi selain darimu. Maaf
untuk semua itu.. untuk keegoisanku sebagai teman, yang tak seharusnya ku
lakukan.
Satu
hal saja yang ingin ku tanyakan. Ada apa denganmu? Apa yang akan kau lakukan
seandainya kau jadi aku? Merasakan posisi sulit ini..
Maaf..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar