Selasa, 26 November 2013

Dan Athena pun Menyerah..



Malam ini aku memang berniat pulang cepat dari komisariat karena aku ingin mendengar setitik motivasi dari pamanku. Langkahku kupercepat begitu turun dari motor temanku yang mengantarku pulang. Kususuri gang kecil yang hanya disinari sebuah lampu. Tapi pamanku, ia terlihat sibuk dengan beberapa temannya dan tengah asyik membicarakn sesuatu. Sampai kuputuskn bercerita pada kotak bercahaya yang kata orang bernama laptop. Meski aku tau ia tak akan mampu mendengar ataupun meresponku. Tapi kuteruskan saja. Mungkin sedikit membantu.


Malam ini seorang Athena menyerah. Seorang yang kuanggap Athena. Dewa perang yang kufikir ia mewarisi kecerdikan Metis dan mentalitas pejuang Zeus. Iya, ia adalah seseorag yang beberapa hari lalu kutulis dalam sebuah puisi menggambarkan sedikit kekecewaan yang tak akan mengalahkan kagumku padanya. Seseorang yang selalu menggabungkan filosofi dengan perang, kebijaksanaan dengan pertempuran, menjadi perpaduan yang tak terkalahkan.

Tapi malam ini sungguh, strateginya kali ini adalah salah satu dari begitu rumitnya pola pikir yang tak kumengerti hingga detik ini. Menimbulkan begitu banyak Ares membabi buta menghakiminya malam ini. Ia bahkan membiarkan dirinya begitu saja. Athena yang dengan mata abu-abu seperti burung hantu itu diam. Seribu kata.

Apakah sudah saatnya? Malam ini aku duduk disampingnya. Aku tau baginya ini bukan perang besar, tapi aku hanya mendampinginya dalam perang apapun. Perang yang ia menangkan maupun yang tak dapat ia menangkan. Aku akan disana, disampingnya.

Apakah sudah saatnya? Aku bertanya sekali lagi. Apa memang sekarang saatnya kau harus diperlakukan seperti ini. Apakah sudah saatnya untukku meninggalkanmu? Wahai Athena, bicaralah padaku, sekali lagi. Apa sudah saatnya untukku meneruskan perjuangan seorang diri? Apakah sudah saatnya aku berhenti memanggilmu Athena?

Malam ini, Athena, kakak ku itu dia duduk baga diadili. Kami hanya hendak membantunya dan berharap ia tau itu. Setiap kata yang terucap darinya begitu berarti untukku. Aku hanya takut ia terluka oleh yang lain. Meski sejatinya ia lebih kuat dariku. Ia siap pasang badan untuk tidak menimbulkan kesan buruk terhadap komisariat ini. Emosi teman-teman lain tentu saja tak mudah dibendung. Aku tak berani walau sedikit saja menatap matanya. Aku takut memastikan bagaimana raut wajahnya saat itu. Aku hanya menunduk.

Forum pun terus berlanjut, dengan emosi tak terkendali. Aku ingin membelanya, tapi ia tak mengijinkanku mengetahui jalannya. Ia membiarkanku tersesat dan memaksaku kembali kepada yang lain. Yang lain yang tak mengerti tentangnya. Setelah forum berakhir, ia segera melangkah pergi tanpa mengucapkan apapun.

“Sorry.. I can’t say anything except sorry” itulah pesan singkat yang kukirim padanya. Aku berhrap ia membalasnya, ternyata tidak. Aku tak tau apa yang difikirkannya saat ini. Semoga apa yang menjadi pilihan dan kepercayaanmu berakhir membahagiakanmu kak. Aku tetap akan mendukungmu. Meski nanti tak bisa lagi disampingmu, aku harap kau mengerti. KARNA AKU PERISAI DAN KAU PELURU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar