Malam
ini seorang Athena menyerah. Seorang yang kuanggap Athena. Dewa perang yang
kufikir ia mewarisi kecerdikan Metis dan mentalitas pejuang Zeus. Iya, ia
adalah seseorag yang beberapa hari lalu kutulis dalam sebuah puisi
menggambarkan sedikit kekecewaan yang tak akan mengalahkan kagumku padanya.
Seseorang yang selalu menggabungkan filosofi dengan perang, kebijaksanaan
dengan pertempuran, menjadi perpaduan yang tak terkalahkan.
Tapi
malam ini sungguh, strateginya kali ini adalah salah satu dari begitu rumitnya
pola pikir yang tak kumengerti hingga detik ini. Menimbulkan begitu banyak Ares
membabi buta menghakiminya malam ini. Ia bahkan membiarkan dirinya begitu saja.
Athena yang dengan mata abu-abu seperti burung hantu itu diam. Seribu kata.
Apakah
sudah saatnya? Malam ini aku duduk disampingnya. Aku tau baginya ini bukan
perang besar, tapi aku hanya mendampinginya dalam perang apapun. Perang yang ia
menangkan maupun yang tak dapat ia menangkan. Aku akan disana, disampingnya.
Apakah
sudah saatnya? Aku bertanya sekali lagi. Apa memang sekarang saatnya kau harus
diperlakukan seperti ini. Apakah sudah saatnya untukku meninggalkanmu? Wahai
Athena, bicaralah padaku, sekali lagi. Apa sudah saatnya untukku meneruskan
perjuangan seorang diri? Apakah sudah saatnya aku berhenti memanggilmu Athena?
Malam
ini, Athena, kakak ku itu dia duduk baga diadili. Kami hanya hendak membantunya
dan berharap ia tau itu. Setiap kata yang terucap darinya begitu berarti untukku.
Aku hanya takut ia terluka oleh yang lain. Meski sejatinya ia lebih kuat
dariku. Ia siap pasang badan untuk tidak menimbulkan kesan buruk terhadap
komisariat ini. Emosi teman-teman lain tentu saja tak mudah dibendung. Aku tak
berani walau sedikit saja menatap matanya. Aku takut memastikan bagaimana raut
wajahnya saat itu. Aku hanya menunduk.
Forum
pun terus berlanjut, dengan emosi tak terkendali. Aku ingin membelanya, tapi ia
tak mengijinkanku mengetahui jalannya. Ia membiarkanku tersesat dan memaksaku kembali
kepada yang lain. Yang lain yang tak mengerti tentangnya. Setelah forum
berakhir, ia segera melangkah pergi tanpa mengucapkan apapun.
“Sorry.. I can’t say anything except sorry” itulah pesan singkat yang kukirim padanya. Aku
berhrap ia membalasnya, ternyata tidak. Aku tak tau apa yang difikirkannya saat
ini. Semoga apa yang menjadi pilihan dan kepercayaanmu berakhir membahagiakanmu
kak. Aku tetap akan mendukungmu. Meski nanti tak bisa lagi disampingmu, aku
harap kau mengerti. KARNA AKU PERISAI DAN KAU PELURU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar