Sabtu, 07 September 2013

50 Menit


Penasaran ku tak tuntas hanya dengan 50 menit. Entah waktu yang merayap cepat, atau aku yang terlalu menyimak. Kau menginsipirasi. Beruntung sekali gadis berkerudung merah itu. Yang selalu kau tulis, seolah dengan darahmu. Bukan tinta. Meski aku masih selalu penasaran. Fiksikah ia ? ditengah-tengah garisan kalimatmu yang sunggung tergambar nyata.

Masa kecilmu, bagiku,  sempurna membuatmu mempunyai biografi perjalanan unik sampai akhir nya sekarang kau jadi wartawan. Kurasa benar kata orang itu (aku lupa namanya), yang menyebutmu lebih cocok jadi penulis. Kalau kau jadi wartawan, kupikir….. akan jadi goresan dramatis, namun tetap dengan lugasmu ! kau berbeda.


Hey, aku lebih suka memanggilmu “H...........”, tapi kau memang benar-benar mirip Conan. Hanya saja tak  ada sepatu dan dasi kupu-kupu. Diluar itu, kisah yang kau gores tak seperti Detektif  cilik pujaanku itu. Ran yang selalu merindu Conan. Sedang kau, selalu meracuni hari dengan rindumu. Setidaknya begitu yang kau tuliskan, karna tanyaku belum terjawab. Tapi, tetap saja pemilik senyum manis itu beruntung. Ini salah satu sisi kontradiktif antara kau dan Conan. Ehhh, ada satu lagi.. kurasa mata Conan tidak sipit.
Semoga kau lanjut usia tetap dengan tulisan-tulisan indahmu itu. Karna aku, butuh untuk merasa bodoh. Tak peduli apa, aku suka.
Aku bingung caramu menarik garis antara fiksi dan nyata. Tapi kagumku tersampaikan. Apa yang terlintas difikiranmu kalau nantinya  salah seorang pembacamu bertanya ? seperti aku. Fiksikah ini ? nyatakah itu ? ah.. jangan dengarkan ! tetaplah menulis.
Aku memang merasa miris tapi indah. Begitu kurasa sampainya pesan dari tulisanmu. Aku penasaran, apa yang sedang kau fikirkan saat menulis ? apa harapanmu setelah itu ? apa tujuanmu ? ternyata aku benar. 50 menit tidak cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar