Penasaran ku tak tuntas
hanya dengan 50 menit. Entah waktu yang merayap cepat, atau aku yang terlalu
menyimak. Kau menginsipirasi. Beruntung sekali gadis berkerudung merah itu.
Yang selalu kau tulis, seolah dengan darahmu. Bukan tinta. Meski aku masih
selalu penasaran. Fiksikah ia ? ditengah-tengah garisan kalimatmu yang sunggung
tergambar nyata.
Masa kecilmu,
bagiku, sempurna membuatmu mempunyai biografi perjalanan unik sampai
akhir nya sekarang kau jadi wartawan. Kurasa benar kata orang itu (aku lupa
namanya), yang menyebutmu lebih cocok jadi penulis. Kalau kau jadi wartawan,
kupikir….. akan jadi goresan dramatis, namun tetap dengan lugasmu ! kau
berbeda.
Hey, aku lebih suka
memanggilmu “H...........”, tapi kau memang benar-benar mirip Conan. Hanya saja
tak ada sepatu dan dasi kupu-kupu. Diluar itu, kisah yang kau gores tak
seperti Detektif cilik pujaanku itu. Ran yang selalu merindu Conan.
Sedang kau, selalu meracuni hari dengan rindumu. Setidaknya begitu yang kau
tuliskan, karna tanyaku belum terjawab. Tapi, tetap saja pemilik senyum manis
itu beruntung. Ini salah satu sisi kontradiktif antara kau dan Conan. Ehhh, ada
satu lagi.. kurasa mata Conan tidak sipit.
Semoga kau lanjut usia
tetap dengan tulisan-tulisan indahmu itu. Karna aku, butuh untuk merasa bodoh.
Tak peduli apa, aku suka.
Aku bingung caramu
menarik garis antara fiksi dan nyata. Tapi kagumku tersampaikan. Apa yang
terlintas difikiranmu kalau nantinya salah seorang pembacamu bertanya ?
seperti aku. Fiksikah ini ? nyatakah itu ? ah.. jangan dengarkan ! tetaplah
menulis.
Aku memang merasa miris
tapi indah. Begitu kurasa sampainya pesan dari tulisanmu. Aku penasaran, apa
yang sedang kau fikirkan saat menulis ? apa harapanmu setelah itu ? apa
tujuanmu ? ternyata aku benar. 50 menit tidak cukup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar