“Jangan mengaku beriman sebelum kamu diuji, itu kata Al-qur’an nduk..maka jangan mengaku menjadi peserta LK 2 terbaik cabang Depok sebelum kamu diuji, entah diuji dengan kadermu, kepengurusanmu dan ujian lainnya nanti”, kalimat pembuka yang disampaikan Om melalui telphone malam ini, tanpa berbasa-basi. Cukup menyiram kembali rasa optimisku akan rumitnya permasalahan kali ini.
Hanya tangis
sesunggukan yang kuperintah untuk menjawab nasehat indah itu. Bukan iya, bukan
pula tidak jawabku. Hanya segelintir airmata liar yang tak terlihat olehnya.
Aku bersyukur karna aku tak perlu menyembunyikannya. Karna hampir tak pernah
aku menangis didepan oranglain. Kecuali …………..
Bingungku memuncak. Apa
yang harus aku lakukan ? harus ku mulai dari mana ?
Alahhh….apa ada yang
berfikir sesusah aku ? kadang aku berfikir sekenanya. Setiap orang memang
mencondongkan hidupnya pada kepentingan pribadi. Kuakui itu lebih menyenangkan.
Setidaknya sementara ini.
Tidakkah tanggung jawab
ini terlalu berlebihan untuk kutanggung. Tidakkah terpikir pundakku terlalu
kecil untuk itu ? Tidakkah kalian takut aku merasa terpojokkan ? Aku tidak
berharap ada yang mengerti. Aku tidak akan berhenti, apalagi lari. Itu yang
kuingin kalian tau. Karna hidup adalah perjuangan. Ketika berhenti artinya
mati.
Aku memang tak selalu
mampu mengeluh lewat lisan. “aku masih bisa berproses dimanapun om, tapi dia ?
dia akan berhenti kalau dia yang harus keluar” pesan singkat itu kukirim.
Sejenak aku berfikir, kenapa perjuangan setengah-setengah itu dibela ! bukankah
berjuang artinya mempertaruhkan hidup demi Pencipta dan ciptaannya. Entahlah..
aku berfikir tetap saja aku sendiri. Tak kurasakan kehadiran Tuhan saat itu.
Padahal aku tengah berjuang untuk-Nya.
“justru tanpa kamu
dikom, mereka tidak berproses apa-apa. Shark your life, begitu kata orang
Jepang bhing (sebutan gadis untuk orang Madura)” pesan sigkat ini
kusimpan sampai sekarang. Akan kubuka lagi jika masalah serupa datang.
Pikirku.
Masih berat
rasanya,tekadku lemah. Kulangkahkan kaki keluar dengan tas ransel besar
dipunggung. Kupenuhi janji ku untuk yunda Evi di warung Moe dekat kampus. Dari
gang 2 gang tirto aku nekad jalan kaki. Semoga dapat membuatku lupa sejenak
tentang hal itu. Harapku.
Panjang kali lebar, ia
memotivasiku. Aku senang. Masih ada senior sepertinya. Segala kekurangan ia
jadikan kelebihan. Aku bangga mengenalnya.
Dengan 2 pompaan
semangat aku kembali menyusun strategi untuk bisa mengalahkan diriku dulu. Dia
pamit pulang. Kusambut dengan jabatan tangan erat. Senyumku mengantarkan ia
pulang. Bayangannya semakin terlihat kecil dan akhirnya tenggelam dikejauhan.
Baru aku sadar kalau tidak ada yang mengantarku pulang. Kulihat jam tangannku.
Jam 00.39. Kulirik beberapa orang dipojok warung. Beberapa teman-teman korkom
dan yang lainnya. Mereka bergurau sembari menikmati kopi (walau rasanya tetap
pahit buatku). Membuatku sungkan. Aku langsung pamit pulang.
Selama 2 tahun lebih
baru kali ini kulihat jalanan tirto begitu lengang. Aku takut. Itu jujur.
Bagaimana tidak ? badanku tidak cukup besar kalau harus melawan orang yang
mungkin mau mencelakaiku. Aku tidak tau ilmu apapun, bela diri, pencak silat
atau apapulah itu. Yang kutau hanya ilmu bahasa inggris,itupun belum tuntas
benar.
Kususuri jalanan gelap
itu. Jam 00.46. Sendiri !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar