Sabtu, 07 September 2013

Bocah ingusan ini mengerti..



Em, iya. Aku paham. Meski tak sehebat kau.
Tak usah kau tarik garis sejelas itu..

Berani sekali aku. Bagaimana mungkin aku berfikir kita imbang ? bagaimana mungkin kuharapkan untuk habiskan tinta ini bersama ? Mengisinya kembali, dan sampai akhirnya tak dapat terisi lagi nanti..
wahai teman, detik ini juga kurasakan dunia yang hanya beberapa hari membuatku bergairah mengukir mimpi itu sirna lagi, gelap.

Untuk apa ku ayunkan jemari berkali-kali. Tak akan ada yang tergores sempurna. Hampa !

Aku bingung,salah apa aku. Hingga kau berbeda. Mungkin bocah ingusan ini terlalu dalam mengganggumu. Bahkan jauh sebelum ini kau mungkin bertanya-tanya arti perhatianku terhadapmu. Bahkan jauh sebelum ini kau mungkin juga menerka-nerka apa yang tersirat dalam gerakku.
Lebih baik jemari ini berdarah bahkan patah daripada ia tak bisa menulis lagi.
Tak pernah aku bermaksud mengusikmu. Mengganggu setiap ketentraman hidupmu. Hanya tak mudah bagiku, pergi menjauh.

Sebelumnya ingin ku katakan, hanya padamu. Aku bukan gadis hebat yang seperti mereka lihat, yang mereka puja.  Aku tidak dapat berkomunikasi secara verbal dengan baik. Menulis, kupikir salah satu jalan keluar, terang, yang kau tunjukkan. Sebelumnya aku dipanggung itu sendiri, dan kau datang membawa skenario baru. Yang awalnya kufikir,ah..sudahlah. Tapi ternyata kau sutradara hebat bagi duniaku.
Tapi kini aku sendiri.

Airmata ini tak ada apa-apanya teman. Tidak ada apa-apanya dibandingkan kehilangan seorang teman berharga sepertimu. Ini hanya hal kecil yang bagimu mungkin akan berlalu ditengah padatnya aktifitasmu. Tapi aku ?
Aku kehilangan dunia ku.
Teruntuk dirimu, dengarkanlah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar