Tak usah kau tarik garis sejelas itu..
Berani sekali aku. Bagaimana mungkin aku berfikir
kita imbang ? bagaimana mungkin kuharapkan untuk habiskan tinta ini bersama ?
Mengisinya kembali, dan sampai akhirnya tak dapat terisi lagi nanti..
wahai teman, detik ini juga kurasakan dunia yang
hanya beberapa hari membuatku bergairah mengukir mimpi itu sirna lagi, gelap.
Untuk apa ku ayunkan jemari berkali-kali. Tak akan
ada yang tergores sempurna. Hampa !
Aku bingung,salah apa aku. Hingga kau berbeda.
Mungkin bocah ingusan ini terlalu dalam mengganggumu. Bahkan jauh sebelum ini
kau mungkin bertanya-tanya arti perhatianku terhadapmu. Bahkan jauh sebelum ini
kau mungkin juga menerka-nerka apa yang tersirat dalam gerakku.
Lebih baik jemari ini berdarah bahkan patah daripada
ia tak bisa menulis lagi.
Tak pernah aku bermaksud mengusikmu. Mengganggu
setiap ketentraman hidupmu. Hanya tak mudah bagiku, pergi menjauh.
Sebelumnya ingin ku katakan, hanya padamu. Aku bukan
gadis hebat yang seperti mereka lihat, yang mereka puja. Aku tidak dapat
berkomunikasi secara verbal dengan baik. Menulis, kupikir salah satu jalan
keluar, terang, yang kau tunjukkan. Sebelumnya aku dipanggung itu sendiri, dan
kau datang membawa skenario baru. Yang awalnya kufikir,ah..sudahlah. Tapi
ternyata kau sutradara hebat bagi duniaku.
Tapi kini aku sendiri.
Airmata ini tak ada apa-apanya teman. Tidak ada
apa-apanya dibandingkan kehilangan seorang teman berharga sepertimu. Ini hanya
hal kecil yang bagimu mungkin akan berlalu ditengah padatnya aktifitasmu. Tapi
aku ?
Aku kehilangan dunia ku.
Teruntuk dirimu, dengarkanlah..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar