Selasa, 01 Oktober 2013

Jadilah Berbeda


       
   “Jadilah berbeda bhing (panggilan anak gadis orang Madura)” kata pamanku, akhinya memecah keheningan malam itu. Tidak ada ceramah seperti malam-malam sebelumya. Tidak ada lagi pancaran rasa ingin tau dari mataku, tetang Tuhan, tentang Politik, tentang Filsafat, tentang kehidupan.
“Menjadi berbeda itu tidak enak om” jawabku sekenanya. Dengan wajah malas, muram, seolah tak mau hidup lagi.
“Jawaban aneh, sana buat kopi.”

Aku melangkah malas. Menyeduh si manis dan si pahit, menyatukan mereka dengan air panas.
“Oranglain biasanya akan menjawab, menjadi berbeda itu sulit”
“hehe..” aku hanya nyengir tak menjawab.
Kurasa menjadi berbeda itu..kesepian. Karna kau tak sama dengan sekitarmu. Tak bisa menjadi mayoritas. Tapi harus ku akui semua itu yang aku alami. Dan bagaimana bisa kusampaikan itu didepan Om ku. Jangankan soal hal sesulit itu, hal-hal kecil saja terbiasa sendiri, tersimpan disudut hati. Lisanku tak terucapkan, sementara hatiku terus saja siap mencatatnya.
Aku selalu berharap, semoga kelak aku bertemu dengan Om Jenny junior. Semoga ada lelaki seperti dia kelak. Kedalaman fikirnya, cara padangnya, strategi hidupnya. Menatap matanya saja sudah dapat kupastikan, masalahku pasti terlalui. Pilihan sulit pasti datang bijaksanaku.
Dia keluarga serta senior terbaik yang pernah kumiliki. Bersinar. Menarik untuk didatangi, khususnya kepada siapa saja yang butuh pencerahan. Dia juga guru spiritualku. Saat imanku melemah, ialah yang merasioalkan perkara Tuhan. Perkara alasan kita ada di dunia ini, kenapa manusia diciptakan.
Aku tau ia orang yang berbeda. Orang yang bersedia kalah dihadapan manusia, tapi sesungguhnya ia menang di hadapan Tuhan. Orang yang sanggup dan selalu memilih kesederhanaan di hadapan manusia, tapi ialah orang terkaya di hadapan Tuhan.
“Om, beberapa hari lagi aku ada penjurusan”
“Hm..lalu ? “
“Bingung mau milih yang mana..kalau EYL(English For Young Learner) itu tentang pengajaran khusus guru di sekolah dasar, kalau BE (Bussiness English) itu lebih mengarah berbisnis gitu..kalau pilihan ke tiga ada Translation, ya..penerjemah gitu”
“Jadi penerjemah saja”
“Itu pilihan yang paling dihindari om, sulit, menegangkan, membosankan, plus terkenal dijauhi teman-teman”
“Kata siapa kamu ?”
“Kata beberapa kakak tingkat dan teman-temanku”
“Manusia itu rasa cemasnya kadang terlalu besar. Jalani saja. Buktikan sendiri lalu taklukkan !”
“Tapi om….”
“Pejuang tidak kenal kata tapi..”
Hening sejenak. Ia menyeruput kopi buatanku. Aku memandangnya lekat. Berharap ia melanjutkan kata-katanya. Selain itu aku juga berfikir, apa kopi buatan ku sesuai seleranya. Tadi kubuat sekenanya, campur aduk, sesuai perasaanku sekarang.
“Om dulu menggantungkan hidup dari hasil terjemahan. Bukankah impianmu jadi penulis ? itu akan banyak membantumu menemukan karakter. Mengetahui cerita-cerita dari seluruh dunia”
“Hm..” Cuma dua huruf itu yang mampu kukeluarkan. Semua masih terasa sulit.
Sebenarnya bukan hanya masalah kecil seperti penjurusan yang kufikirkan. Tapi puncak kebingungan (istilah anak jaman sekarang “galau”) tentang menjadi berbeda. Apa hal yang selama ini kufikirkan benar-benar penting?. Apa waktuku selama ini tak terbuang sia-sia?. Apa masa remajaku harus kubuat berbeda dengan yang lain?.
Sementara yang lain punya waktu jalan-jalan dengan teman sebaya, aku harus bergulat tentang yang harus kuajarkan kepada adik-adikku. Ketika teman-teman ku asik bergosip banyak hal, aku harus membaca buku karna harus terpaksa pintar daripada berdosa pada kader-kaderku. Saat yang lain berteriak hysteria, senang karna bisa pulang cepat ke kost-kostan, aku harus melangkahkan kaki ke komisariat mulai memikirkan banyak hal. Ketika mereka sudah menyelesaikan tugas-tugas dari dosen aku masih bergulat tentang tugas lain.
Apa langkahku tepat menjadi seperti ini?. Kata mereka sih aku aktifis. Entahlah, aku masih belum merasa begitu. Yang aku rasa, aku hanya orang yang terlalu peduli dengan hal-hal yang justru tidak dipedulikan teman-temanku. Korupsi, birokrasi kampus, idealisme mahasiswa, masalah agama, hedonisme melanda teman-teman sebayaku, yaaahhhhh.. hal-hal seperti itulah yang justru kufikirkan. Bodoh kan?. Bodoh kah aku? Apa aku salah memikirkan bangsaku? Apa salahnya berjuang untuk itu?
Hal ini semakin membuatku berfikir keras. Menyipitkan mataku, mengerutkan kening.
“Jalani saja” kata-kata itu jujur saja mengagetkanku. Kukira Om ku sudah masuk kerumah. Mungkin ia melihat ekpresi anehku tadi.
Aku bahkan tetap tidak bisa menceritakan segalanya padanya. Padahal aku tau, aku bisa saja mencerikatakan semua hal. Aku beruntung memiliki Om yang begitu demokratis. Bukan Cuma soal HMI, Filsafat, agama dan lain-lain, tapi juga soal urusan asmara dan sebagainya. Tapi aku saja yang tetap tidak bisa melisankannya.
“Sudah jam setengah 2, sana istirahat”
“iya…” aku melangkah berat. Seolah sudah sampai tujuan tapi belum menemukan jawaban.
Kumasuki kamaru yang berantakan beberapa hari ini, sama seperti perasaanku. Tak kuniatkan hal ini untuk kulisankan kepada siapapun. Aku tidur. Berharap semua lebih baik besok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar