“Jadilah berbeda bhing (panggilan anak gadis orang Madura)” kata pamanku, akhinya memecah keheningan malam itu. Tidak ada ceramah seperti malam-malam sebelumya. Tidak ada lagi pancaran rasa ingin tau dari mataku, tetang Tuhan, tentang Politik, tentang Filsafat, tentang kehidupan.
“Menjadi berbeda itu tidak enak om” jawabku
sekenanya. Dengan wajah malas, muram, seolah tak mau hidup lagi.
“Jawaban aneh, sana buat kopi.”
Aku melangkah malas. Menyeduh si manis dan si pahit,
menyatukan mereka dengan air panas.
“Oranglain biasanya akan menjawab, menjadi berbeda
itu sulit”
“hehe..” aku hanya nyengir tak menjawab.
Kurasa menjadi berbeda itu..kesepian. Karna kau tak
sama dengan sekitarmu. Tak bisa menjadi mayoritas. Tapi harus ku akui semua itu
yang aku alami. Dan bagaimana bisa kusampaikan itu didepan Om ku. Jangankan
soal hal sesulit itu, hal-hal kecil saja terbiasa sendiri, tersimpan disudut
hati. Lisanku tak terucapkan, sementara hatiku terus saja siap mencatatnya.
Aku selalu berharap, semoga kelak aku bertemu dengan
Om Jenny junior. Semoga ada lelaki seperti dia kelak. Kedalaman fikirnya, cara
padangnya, strategi hidupnya. Menatap matanya saja sudah dapat kupastikan,
masalahku pasti terlalui. Pilihan sulit pasti datang bijaksanaku.
Dia keluarga serta senior terbaik yang pernah
kumiliki. Bersinar. Menarik untuk didatangi, khususnya kepada siapa saja yang
butuh pencerahan. Dia juga guru spiritualku. Saat imanku melemah, ialah yang
merasioalkan perkara Tuhan. Perkara alasan kita ada di dunia ini, kenapa
manusia diciptakan.
Aku tau ia orang yang berbeda. Orang yang bersedia
kalah dihadapan manusia, tapi sesungguhnya ia menang di hadapan Tuhan. Orang
yang sanggup dan selalu memilih kesederhanaan di hadapan manusia, tapi ialah
orang terkaya di hadapan Tuhan.
“Om, beberapa hari lagi aku ada penjurusan”
“Hm..lalu ? “
“Bingung mau milih yang mana..kalau EYL(English For
Young Learner) itu tentang pengajaran khusus guru di sekolah dasar, kalau BE
(Bussiness English) itu lebih mengarah berbisnis gitu..kalau pilihan ke tiga
ada Translation, ya..penerjemah gitu”
“Jadi penerjemah saja”
“Itu pilihan yang paling dihindari om, sulit,
menegangkan, membosankan, plus terkenal dijauhi teman-teman”
“Kata siapa kamu ?”
“Kata beberapa kakak tingkat dan teman-temanku”
“Manusia itu rasa cemasnya kadang terlalu besar.
Jalani saja. Buktikan sendiri lalu taklukkan !”
“Tapi om….”
“Pejuang tidak kenal kata tapi..”
Hening sejenak. Ia menyeruput kopi buatanku. Aku
memandangnya lekat. Berharap ia melanjutkan kata-katanya. Selain itu aku juga
berfikir, apa kopi buatan ku sesuai seleranya. Tadi kubuat sekenanya, campur
aduk, sesuai perasaanku sekarang.
“Om dulu menggantungkan hidup dari hasil terjemahan.
Bukankah impianmu jadi penulis ? itu akan banyak membantumu menemukan karakter.
Mengetahui cerita-cerita dari seluruh dunia”
“Hm..” Cuma dua huruf itu yang mampu kukeluarkan.
Semua masih terasa sulit.
Sebenarnya bukan hanya masalah kecil seperti
penjurusan yang kufikirkan. Tapi puncak kebingungan (istilah anak jaman
sekarang “galau”) tentang menjadi berbeda. Apa hal yang selama ini kufikirkan
benar-benar penting?. Apa waktuku selama ini tak terbuang sia-sia?. Apa masa
remajaku harus kubuat berbeda dengan yang lain?.
Sementara yang lain punya waktu jalan-jalan dengan
teman sebaya, aku harus bergulat tentang yang harus kuajarkan kepada
adik-adikku. Ketika teman-teman ku asik bergosip banyak hal, aku harus membaca
buku karna harus terpaksa pintar daripada berdosa pada kader-kaderku. Saat yang
lain berteriak hysteria, senang karna bisa pulang cepat ke kost-kostan, aku
harus melangkahkan kaki ke komisariat mulai memikirkan banyak hal. Ketika
mereka sudah menyelesaikan tugas-tugas dari dosen aku masih bergulat tentang
tugas lain.
Apa langkahku tepat menjadi seperti ini?. Kata
mereka sih aku aktifis. Entahlah, aku masih belum merasa begitu. Yang aku rasa,
aku hanya orang yang terlalu peduli dengan hal-hal yang justru tidak
dipedulikan teman-temanku. Korupsi, birokrasi kampus, idealisme mahasiswa,
masalah agama, hedonisme melanda teman-teman sebayaku, yaaahhhhh.. hal-hal
seperti itulah yang justru kufikirkan. Bodoh kan?. Bodoh kah aku? Apa aku salah
memikirkan bangsaku? Apa salahnya berjuang untuk itu?
Hal ini semakin membuatku berfikir keras.
Menyipitkan mataku, mengerutkan kening.
“Jalani saja” kata-kata itu jujur saja
mengagetkanku. Kukira Om ku sudah masuk kerumah. Mungkin ia melihat ekpresi
anehku tadi.
Aku bahkan tetap tidak bisa menceritakan segalanya
padanya. Padahal aku tau, aku bisa saja mencerikatakan semua hal. Aku beruntung
memiliki Om yang begitu demokratis. Bukan Cuma soal HMI, Filsafat, agama dan
lain-lain, tapi juga soal urusan asmara dan sebagainya. Tapi aku saja yang
tetap tidak bisa melisankannya.
“Sudah jam setengah 2, sana istirahat”
“iya…” aku melangkah berat. Seolah sudah sampai
tujuan tapi belum menemukan jawaban.
Kumasuki kamaru yang berantakan beberapa hari ini,
sama seperti perasaanku. Tak kuniatkan hal ini untuk kulisankan kepada
siapapun. Aku tidur. Berharap semua lebih baik besok.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar