Mungkin kau takkan pernah tau,
mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau untuk dicintai.
Sepenggal lirik dari Sheila on 7 masih senantiasa berirama dikamar ku. Lirik
indah yang selalu menghiasi indahnya nada. Berlari serasi dengan harmoni
penciptanya.
Tapi
malam ini fikiranku tidak mampu kuarahkan kesana. Bukan seseorang disana yang
hendak kuceritakan. Malam ini kesedihan memang merundungku. Tapi bukan hanya
tentang dia. Tentang orang-orang diluar sana. Tentang para anak yatim, para
pengemis, para anak jalanan, orang-orang yang dianggap kalah dimata manusia.
Tuhanku, aku memang bukan orang baik, tapi aku hanya memohon ijin mu untuk
dapat sedikit membantu mereka.
Terbayang
sekilas, entah siapa dia. Anak lelaki berusia sekitar 11 tahunan, dengan wajah
lusuh dan baju berwarna coklat. Bukan karna warna itu memang seharusnya begitu,
melainkan baju itu adalah baju satu-satunya yang ia punya. Rambut tak
beraturan. Mata yang terpancar kesedihan didalamnya. Tak bisa sekolah sementara
aku selalu megeluh betapa lelah menjalani PPL dan kuliah sekaligus. Tak bisa
memakai baju layak sementara kebanyakan dari kami pasti membeli baju sampai
lemarinya muntah-muntah. Tak bisa memilih makanan, karna apa yang ada di
sampah-sampah itulah yang terkadang harus menjadi makan malamnya. Sementara
kami, mampu berjalan menelusuri ramainya jalan untuk memilih rumah makan mana
yang hendak disinggahi.
Tuhanku,
berikan kekuatan untuk menolong mereka.
Apakah
para anak yatim di panti asuhan tengah merindukan kedua orangtuanya? Apakah
mereka mencuri-curi waktu untuk bisa sekedar meneteskan airmata dan berusaha
mengingat kenangan bersama orangtua mereka? Apakah ada yang membantu meredakan
sesak dalam hatinya? Apakah ada yang
memberikan ia kasih saying yang cukup untuk mengganti apa yang dirindukannya
selama ini? Apa ada yang mengajarinya bagaimana mengenal Tuhan sehingga ia juga
mampu jadi hamba yang pemaaf? Tuhanku, sekali lagi hamba tengadahkan tangan,
beri kekuatan untuk membantu mereka. Sedari dulu hamba bercita-cita punya rumah
panti asuhan. Supaya kehidupan ini dapat hamba pertanggungjawabkan. Sebenarnya
bukan cuma itu, tapi supaya tak ada lagi yang tak merasakan rindu kasih saying
seorang ibu. Tak ada lagi anak-anak yang harus menangis dimalam hari. Jadikan hamba
Ibu bagi anak-anak yang membutuhkan. Jadikan hamba kakak bagi adik-adik yang
membutuhkan.
Bukankah
diwajah anak yatim ada wajahmu Tuhan? Berikan keadilan untuk mereka, Tuhanku.
Mata
ini tetap saja enggan terpejam. Ia tetap meneteskan airmata. Kuingat sekilas
tentang seseorang temanku disana yang sedang membutuhkan motivasi dari
orang-orang disekitarnya. Rasa malas yang awalnya ia rasakan, kini menjadi
boomerang dan berubah menjadi rasa takut. Ia tak banyak cerita tentang hal
itu,namun aku sedikit mengerti. Aku benar-benar berusaha untuk mengerti. Dan
doaku saja yang mungkin bisa membantunya.
Semoga
teman itu mendapat kekuatan untuk memenuhi janjinya. Janji kepada orangtua,
keluarga dan orang-orang yang menyayanginya. Semoga ia dapat tetap bersinar
dengan merengkuh semua yang menjadi impiannya. Semoga ia tetap menginspirasi
seperti detective conan dan juga Sheila on 7.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar