Selasa, 01 Oktober 2013

Tolong Mereka Tuhan


Mungkin kau takkan pernah tau, mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau untuk dicintai. Sepenggal lirik dari Sheila on 7 masih senantiasa berirama dikamar ku. Lirik indah yang selalu menghiasi indahnya nada. Berlari serasi dengan harmoni penciptanya.
Tapi malam ini fikiranku tidak mampu kuarahkan kesana. Bukan seseorang disana yang hendak kuceritakan. Malam ini kesedihan memang merundungku. Tapi bukan hanya tentang dia. Tentang orang-orang diluar sana. Tentang para anak yatim, para pengemis, para anak jalanan, orang-orang yang dianggap kalah dimata manusia. Tuhanku, aku memang bukan orang baik, tapi aku hanya memohon ijin mu untuk dapat sedikit membantu mereka.

Terbayang sekilas, entah siapa dia. Anak lelaki berusia sekitar 11 tahunan, dengan wajah lusuh dan baju berwarna coklat. Bukan karna warna itu memang seharusnya begitu, melainkan baju itu adalah baju satu-satunya yang ia punya. Rambut tak beraturan. Mata yang terpancar kesedihan didalamnya. Tak bisa sekolah sementara aku selalu megeluh betapa lelah menjalani PPL dan kuliah sekaligus. Tak bisa memakai baju layak sementara kebanyakan dari kami pasti membeli baju sampai lemarinya muntah-muntah. Tak bisa memilih makanan, karna apa yang ada di sampah-sampah itulah yang terkadang harus menjadi makan malamnya. Sementara kami, mampu berjalan menelusuri ramainya jalan untuk memilih rumah makan mana yang hendak disinggahi.
Tuhanku, berikan kekuatan untuk menolong mereka.
Apakah para anak yatim di panti asuhan tengah merindukan kedua orangtuanya? Apakah mereka mencuri-curi waktu untuk bisa sekedar meneteskan airmata dan berusaha mengingat kenangan bersama orangtua mereka? Apakah ada yang membantu meredakan sesak dalam hatinya?  Apakah ada yang memberikan ia kasih saying yang cukup untuk mengganti apa yang dirindukannya selama ini? Apa ada yang mengajarinya bagaimana mengenal Tuhan sehingga ia juga mampu jadi hamba yang pemaaf? Tuhanku, sekali lagi hamba tengadahkan tangan, beri kekuatan untuk membantu mereka. Sedari dulu hamba bercita-cita punya rumah panti asuhan. Supaya kehidupan ini dapat hamba pertanggungjawabkan. Sebenarnya bukan cuma itu, tapi supaya tak ada lagi yang tak merasakan rindu kasih saying seorang ibu. Tak ada lagi anak-anak yang harus menangis dimalam hari. Jadikan hamba Ibu bagi anak-anak yang membutuhkan. Jadikan hamba kakak bagi adik-adik yang membutuhkan.
Bukankah diwajah anak yatim ada wajahmu Tuhan? Berikan keadilan untuk mereka, Tuhanku.
Mata ini tetap saja enggan terpejam. Ia tetap meneteskan airmata. Kuingat sekilas tentang seseorang temanku disana yang sedang membutuhkan motivasi dari orang-orang disekitarnya. Rasa malas yang awalnya ia rasakan, kini menjadi boomerang dan berubah menjadi rasa takut. Ia tak banyak cerita tentang hal itu,namun aku sedikit mengerti. Aku benar-benar berusaha untuk mengerti. Dan doaku saja yang mungkin bisa membantunya.
Semoga teman itu mendapat kekuatan untuk memenuhi janjinya. Janji kepada orangtua, keluarga dan orang-orang yang menyayanginya. Semoga ia dapat tetap bersinar dengan merengkuh semua yang menjadi impiannya. Semoga ia tetap menginspirasi seperti detective conan dan juga Sheila on 7.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar