Selasa, 01 Oktober 2013

Menyembah Athena, bukan Ares.



Ibarat 3 tahun mencari bekal untuk perang dan pada hari H aku mundur hanya karna kesalahan subjektifitasku semata. Pada hari H aku dengan senang hati menolak panggilan tugas dari rumahku sendiri. Pada hari H aku pertama kalinya menolak tugasku. Pantang tolak tugas? Ahhhhh..tak lagi kuhiraukan semboyan itu.  3 menit merubah tekad 3 tahun. Seharusnya aku kasihani diriku sendiri. Betapa naifnya aku. Atau aku hanya berusaha menyembunyikan jiwa pengecutku disana.

Memimpin mereka, memang bukan itu yang kuinginkan. Tentu saja bukan. Aku naïf ? Persetan, akupun tak peduli kalau ada para makhluk dengan nyawa-nyawa liar yang meyebutku demikian. Bahkan kalau itu harus keluar dari mulutku. Aku hanya ingin merubah rumah ku ini menjadi salah satu entitas yang lebih baik (kalau belum bisa disebut hebat) dalam himpunan kami yang terbilang besar.
3 menit seorang adik bercerita ditengah-tengah panasnya suasana pertanggungjawaban kami di himpunan ini. 3 hari sudah berlalu, malam ini malam terakhir kami. 3 menit dalam 3 hari merubah 3 tahun perjuanganku. Dia bercerita betapa himpunan ini tak seperti yang ia dan teman-temannya fikirkan. Himpunan yang dikiranya dapat merubah ia dan teman-temannya menjadi lebih baik, terutama dalam hal agama. Himpunan yang dalam angan-angannya menjunjung tinggi agama. Bukan himpunan yang berpolitik praktis, setidaknya itu yang ia lihat dan asumsikan selama berproses. Ia juga menyebutkan ada seorang temannya, asal filiphina, yang tak ingin lagi berkehidupan dalam himpunan ini karna hal tersebut. Ia ingin belajar agama disini! Dan kami sebagai pengurus justru tak mampu membaca apalagi memahaminya.
Jujur saja ini menamparku, menampar perjuanganku. Mematikan jiwa semangatku. Membunuh keinginanku untuk banyak belajar lagi untuk saling menghidupi himpunan. Ia benar, begitu kufikir saat itu juga. Memang, himpunan kami berpolitik, memang ia mengajarkan bertaktik untuk menang. Tak sega ia juga berdemo. Meneriakkan dengan tak sopan, kadang begitu pedapat sebagian orang.
“Aku menyerah”.. kalimat itu yang kuteriakkan didalam hati. 3 menit tanpa fikir panjang. Aku menyerah. Aku tak tau banyak hal tentang agama, kuakui. Apalagi untuk menjadi tauladan yang harus dipandang. Aku belum mampu. Ada seseorang yang lebih baik tentang itu. Meski kita semua tau ia seperti apa. Tapi setidaknya ia pantas dicontoh dalam beberapa hal. Kupandang ia yang saat pemilihan duduk tepat disamping kiriku. Kutepuk pundaknya perlahan. Dan iya menyatakan kesanggupannya. Aku memilih untuk mundur. Tanpa mengurai banyak alasan. Kalimat pendekku cukup membuat beberapa kepala mengangguk. Tapi tak sedikit juga mata kecewa yang aku temukan. Yang ku fikir, menjadi kepala kalian selama satu periode kedepan bukan hanya perkara menjadi peserta LK 2 (Latihan Kader) terbaik, bukan pula hanya menjadi pemain strategi handal layaknya Dewi Athena, bukan pula seperti Hitler dengan retorikanya yang hebat dan mengagumkan.. Ah, sudahlah. Aku tau bukan orang seperti itu yang kalian butuhkan. Aku tau orang disebelah kiriku ini yang mungkin sanggup menjadi komandan kalian. Kuharap ia tak akan berakhir seperti Dewa Ares.
Entahlah, ada sesuatu yang sesak disudut hatiku. Ini bukan akhir perjuangan, fikirku saat itu. Aku benar-benar tak mampu memimpin dengan hal yang menyesakkan dadaku. Kucoba sekuat tenaga untuk mengangkat diri di atas medan tempur. Membuat objektifitasku kembali normal. Tapi aku masih belum mampu memikirkan kalian, apalagi diriku sendiri. Aku menolak pinangan dari Cabang, sekarang pinangan Korkom. Bukan apa-apa, karna aku tau rumahku belum bisa kutinggalkan.
Kami berfoto, aku terlihat bahagia. Kami terlihat bahagia. Pundakku lepas. Tawaku lega. Nafasku lemah tapi cukup kuat untukku habiskan sisa malam ini. “Cemen….” Kata sebuah suara dibelakangku. Tanpa kujawab aku tau ia paham alasanku sebenarnya. Dua tahun kita berproses bersama, bahkan tahun terakhir ia memilihku sebagai tangan kanannya. Kuyakin ia mengerti keadaanku saat ini, karna selama ini ia paham sifat keras kepalaku, sifat tak pantang menyerah, sifat mendidik ku yang keras. Ia tahu itu. Tapi aku cukup menjawabnya dengan diam.
Detik berikutnya aku dipilih untuk membantu menyusun kepengurusan baru, sekaligus menjadi pengawas dan konsultan untuk mereka setahun kedepan. Tentu saja aku bersedia. Dengan sepenuh hati Aku bisa membantu kalian. Aku masih bisa memantau semangat kalian. Menurunkan semangat juang kalian untuk terus ditularkan. Entahlah, tapi aku lega. Ditengah-tengah ketakutanku. Aku takut keputusanku salah. Aku takut kalau nanti ada yang bilang panggilan itu memang seharusnya untukku. Tapi dengan angkuh dan pegecutku aku menolak.
Beberapa hari terlewati. Beberapa hari berikutnya beberapa orang kufikir, mulai menyalahkanku. Bahkan pamanku. “subjektifitasmu tidak boleh lagi mengalahkan objektifitasmu Nduk.. memang hanya orang-orang nekad atau gila untuk menjadi sukses”. Aku hanya bisa mengiyakan.
Pesan singkat pun sempat masuk menghardikku “Adek itu terlalu sering terbawa emosi, perasaan, trus menjadi subjektif”. Aku tak tau harus kubalas apa. Pesan itu berakhir tanpa respon. Pesan dari mas Danang. Salah satu seniorku. Orang yang juga penting dalam pengambilan keputusanku.
Yang mengherankan, ada seorang senior meng-update pernyataan di group facebook kita. “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya.” Dan aku tak berani berkomentar apa-apa. Aku sedikit mengerti tapi aku takut apa yang aku megerti itu salah.
Pamanku yang satunya lagi, menelfonku. Kuceritakan semuanya. Aku bahkan bisa menebak raut wajahnya saat itu, jauh di Ponorogo sana. Ia pasti kecewa padaku. Apalagi selama ini ialah yang selalu bersikeras menjadikanku sebagai ketua. 3 tahun ia mendidikku. Bijaksana. “tidak apa-apa Bhing.. dengan keputusanmu mereka, yang sadar dan berfikir, mendapat pembelajaran bahwa buat kita, memimpin adalah sebuah pengorbanan bukan barang rebutan. Semoga juga menjadi pembelajaran untukmu. Kau tinggalkan kesan bahwa kau mahal, sulit didapat. Carilah perjuangan lain, dengan medan tempur yang lebih besar. Dan kau tidak boleh kalah lagi.” Suaranya tetap seperti biasa, seperti paman ku yang selalu bijaksana. Kali ini ia sangat memahamiku, lebih dari biasanya. Menenangkan.
Ada hal yang ingin kujawab untuk pamanku, dan orang-orang yang menyayangiku, yang berjuang bersamaku selama ini. Bahwa pada akhirnya nanti orang-orang menyembah Dewi Athena, bukan Ares.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar