Ibarat
3 tahun mencari bekal untuk perang dan pada hari H aku mundur hanya karna
kesalahan subjektifitasku semata. Pada hari H aku dengan senang hati menolak
panggilan tugas dari rumahku sendiri. Pada hari H aku pertama kalinya menolak
tugasku. Pantang tolak tugas? Ahhhhh..tak lagi kuhiraukan semboyan itu. 3 menit merubah tekad 3 tahun. Seharusnya aku
kasihani diriku sendiri. Betapa naifnya aku. Atau aku hanya berusaha
menyembunyikan jiwa pengecutku disana.
Memimpin
mereka, memang bukan itu yang kuinginkan. Tentu saja bukan. Aku naïf ?
Persetan, akupun tak peduli kalau ada para makhluk dengan nyawa-nyawa liar yang
meyebutku demikian. Bahkan kalau itu harus keluar dari mulutku. Aku hanya ingin
merubah rumah ku ini menjadi salah satu entitas yang lebih baik (kalau belum
bisa disebut hebat) dalam himpunan kami yang terbilang besar.
3
menit seorang adik bercerita ditengah-tengah panasnya suasana
pertanggungjawaban kami di himpunan ini. 3 hari sudah berlalu, malam ini malam
terakhir kami. 3 menit dalam 3 hari merubah 3 tahun perjuanganku. Dia bercerita
betapa himpunan ini tak seperti yang ia dan teman-temannya fikirkan. Himpunan
yang dikiranya dapat merubah ia dan teman-temannya menjadi lebih baik, terutama
dalam hal agama. Himpunan yang dalam angan-angannya menjunjung tinggi agama.
Bukan himpunan yang berpolitik praktis, setidaknya itu yang ia lihat dan
asumsikan selama berproses. Ia juga menyebutkan ada seorang temannya, asal
filiphina, yang tak ingin lagi berkehidupan dalam himpunan ini karna hal
tersebut. Ia ingin belajar agama disini! Dan kami sebagai pengurus justru tak
mampu membaca apalagi memahaminya.
Jujur
saja ini menamparku, menampar perjuanganku. Mematikan jiwa semangatku. Membunuh
keinginanku untuk banyak belajar lagi untuk saling menghidupi himpunan. Ia
benar, begitu kufikir saat itu juga. Memang, himpunan kami berpolitik, memang
ia mengajarkan bertaktik untuk menang. Tak sega ia juga berdemo. Meneriakkan
dengan tak sopan, kadang begitu pedapat sebagian orang.
“Aku
menyerah”.. kalimat itu yang kuteriakkan didalam hati. 3 menit tanpa fikir
panjang. Aku menyerah. Aku tak tau banyak hal tentang agama, kuakui. Apalagi
untuk menjadi tauladan yang harus dipandang. Aku belum mampu. Ada seseorang
yang lebih baik tentang itu. Meski kita semua tau ia seperti apa. Tapi
setidaknya ia pantas dicontoh dalam beberapa hal. Kupandang ia yang saat
pemilihan duduk tepat disamping kiriku. Kutepuk pundaknya perlahan. Dan iya
menyatakan kesanggupannya. Aku memilih untuk mundur. Tanpa mengurai banyak
alasan. Kalimat pendekku cukup membuat beberapa kepala mengangguk. Tapi tak
sedikit juga mata kecewa yang aku temukan. Yang ku fikir, menjadi kepala kalian
selama satu periode kedepan bukan hanya perkara menjadi peserta LK 2 (Latihan
Kader) terbaik, bukan pula hanya menjadi pemain strategi handal layaknya Dewi
Athena, bukan pula seperti Hitler dengan retorikanya yang hebat dan
mengagumkan.. Ah, sudahlah. Aku tau bukan orang seperti itu yang kalian
butuhkan. Aku tau orang disebelah kiriku ini yang mungkin sanggup menjadi
komandan kalian. Kuharap ia tak akan berakhir seperti Dewa Ares.
Entahlah,
ada sesuatu yang sesak disudut hatiku. Ini bukan akhir perjuangan, fikirku saat
itu. Aku benar-benar tak mampu memimpin dengan hal yang menyesakkan dadaku. Kucoba
sekuat tenaga untuk mengangkat diri di atas medan tempur. Membuat
objektifitasku kembali normal. Tapi aku masih belum mampu memikirkan kalian,
apalagi diriku sendiri. Aku menolak pinangan dari Cabang, sekarang pinangan
Korkom. Bukan apa-apa, karna aku tau rumahku belum bisa kutinggalkan.
Kami
berfoto, aku terlihat bahagia. Kami terlihat bahagia. Pundakku lepas. Tawaku
lega. Nafasku lemah tapi cukup kuat untukku habiskan sisa malam ini. “Cemen….”
Kata sebuah suara dibelakangku. Tanpa kujawab aku tau ia paham alasanku
sebenarnya. Dua tahun kita berproses bersama, bahkan tahun terakhir ia
memilihku sebagai tangan kanannya. Kuyakin ia mengerti keadaanku saat ini,
karna selama ini ia paham sifat keras kepalaku, sifat tak pantang menyerah,
sifat mendidik ku yang keras. Ia tahu itu. Tapi aku cukup menjawabnya dengan
diam.
Detik
berikutnya aku dipilih untuk membantu menyusun kepengurusan baru, sekaligus
menjadi pengawas dan konsultan untuk mereka setahun kedepan. Tentu saja aku
bersedia. Dengan sepenuh hati Aku bisa membantu kalian. Aku masih bisa memantau
semangat kalian. Menurunkan semangat juang kalian untuk terus ditularkan.
Entahlah, tapi aku lega. Ditengah-tengah ketakutanku. Aku takut keputusanku
salah. Aku takut kalau nanti ada yang bilang panggilan itu memang seharusnya
untukku. Tapi dengan angkuh dan pegecutku aku menolak.
Beberapa
hari terlewati. Beberapa hari berikutnya beberapa orang kufikir, mulai
menyalahkanku. Bahkan pamanku. “subjektifitasmu tidak boleh lagi mengalahkan
objektifitasmu Nduk.. memang hanya orang-orang nekad atau gila untuk menjadi sukses”. Aku hanya bisa mengiyakan.
Pesan
singkat pun sempat masuk menghardikku “Adek itu terlalu sering terbawa emosi,
perasaan, trus menjadi subjektif”. Aku tak tau harus kubalas apa. Pesan itu
berakhir tanpa respon. Pesan dari mas Danang. Salah satu seniorku. Orang yang
juga penting dalam pengambilan keputusanku.
Yang
mengherankan, ada seorang senior meng-update
pernyataan di group facebook kita. “Apabila suatu urusan diserahkan kepada
yang bukan ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya.” Dan aku tak berani
berkomentar apa-apa. Aku sedikit mengerti tapi aku takut apa yang aku megerti
itu salah.
Pamanku
yang satunya lagi, menelfonku. Kuceritakan semuanya. Aku bahkan bisa menebak
raut wajahnya saat itu, jauh di Ponorogo sana. Ia pasti kecewa padaku. Apalagi
selama ini ialah yang selalu bersikeras menjadikanku sebagai ketua. 3 tahun ia
mendidikku. Bijaksana. “tidak apa-apa Bhing..
dengan keputusanmu mereka, yang sadar dan berfikir, mendapat pembelajaran bahwa
buat kita, memimpin adalah sebuah pengorbanan bukan barang rebutan. Semoga juga
menjadi pembelajaran untukmu. Kau tinggalkan kesan bahwa kau mahal, sulit didapat. Carilah perjuangan
lain, dengan medan tempur yang lebih besar. Dan kau tidak boleh kalah lagi.”
Suaranya tetap seperti biasa, seperti paman ku yang selalu bijaksana. Kali ini
ia sangat memahamiku, lebih dari biasanya. Menenangkan.
Ada
hal yang ingin kujawab untuk pamanku, dan orang-orang yang menyayangiku, yang
berjuang bersamaku selama ini. Bahwa pada akhirnya nanti orang-orang menyembah
Dewi Athena, bukan Ares.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar