Selasa, 31 Desember 2013

Sebanyak apapun tanda tanya yang ada


29 Desember 2013
Bau cat yang basah begitu menyengat dari teras kos-an tempat kami duduk. Malam ini tak terlihat satupun kerlipan bintang, padahal langit menunjukkan wajah pekatnya yang nyata. Dan aku, meski belum bisa percaya, ingin juga menyibak awan gelap yang kau bilang ada banyak kilau bintang dibaliknya. Mungkin ia malu, ataupun tak ingin disangka ragu. Apapun itu, yang jelas hari ini berjalan begitu kaku.

Rabu, 25 Desember 2013

Aku diam dan menangis, bukan berarti tak memaafkan..



Aku bahkan tak ingat ini tanggal berapa dan apa spesialnya hari ini. Yang kuingat adalah aku harus menangis sekali lagi untuk hal yang sama. Menangis mengharapkan apa yang mungkin tidak bisa kembali. Tidak, mungkin Tuhan saja yang belum mengijinkannya. Dan hari ini, betapa sial atau beruntungnya, harapan itu kembali meski harus dengan tangis yang sama. Tangis ku sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Tangis sejak umurku 4 tahun. Tangis ini, kuharap suatu hari kau hapus, Ayah…

Berhenti sejenak


Indah.. Percikan hujan pagi ini tetap sama seperti hari biasanya. Dingin bagai membeku. Tapi karena ada berlembar-lembar kisah dibalik hari yang hujan, ia datang menghadirkan kehangatan. Cinta, persahabatan, keluarga, permusuhan dan berbagai macam hubungan tak tersebut lagi yang pernah menjadikan sang hujan sebagai saksi. Tapi ia selalu mentolerir, mendengar dengan senyap, melihat dengan gelap, berbicara dengan diam, mugkin juga ia menangis beberapa kali. Mungkin saja. Dan kamu, kamu selalu ada saat hujan menemani hariku. Mengalahkan indah pelangi yang akan muncul setelahnya. Warnamu seindah ketujuh warnanya. Sinarmu menggugah sinarnya, berkilau.

Kamu itu...


Pagi ini, iya… masih saja dengan embun nya yang siap menyuruhku untuk tetap nyaman berada dibawah selimut. Aku kaget bukan kepalang saat ada yang mengetuk, lebih pantas disebut menggedor, pintu kamarku. Siapa lagi kalau bukan Om ku. Hari ini dia ambul cuti untuk mengajar. Dan mengancurkan mimpi ku yang langsung lenyap tak kuingat, munkin karna aku langsung loncat membuka pintu tadi. Aissh… belum juga mataku terbuka sempurna ia menyuruhku untuk segera keluar. Makan bersama. Ada apa fikirku. Memang aku dan Om tak jarang menghabiskan makan pagi dan makan malam bersama. Tapi sejak beberapa minggu belakangan Om begitu sibuk. Entah untuk urusan kampusnya atau lainnya. Ada apa pagi ini?

Terimakasih untuk itu, Ibu...




Bu.. meski aku belum sepenuhnya merpati
Lihatlah, aku mulai terbang bu
Berkat sayap yang coba Ibu bantu untuk mengepakkannya
Terimakasih untuk itu..

Bu.. meski aku belum sepenuhnya bintang
Lihatlah, aku mulai bersinar bu
Berkat cahaya yang coba Ibu bantu untuk menerangkannya
Terimakasih untuk itu..