Siang
ini tiba-tiba Om memanggilku. Aku berjalan dengan langkah malas dan duduk
disampingnya yang tengah sibuk dengan laptopnya. Aku tebak ia pasti mau
menasehatiku karna beberapa hari terakhir aku tak pulang kekos. Mau bagaimana
lagi, BPL menuntut untuk demikian hingga aku terpaksa sering tidur di tempat-tempat
LK bahkan di kantor Cabang untuk sekedar membahas hal yang tak jauh-jauh dari
kata “perkaderan”.
Ia
mulai mengalihkan perhatiannya kepadaku. Tapi yang kutangkap hanya kebingungan
darinya untuk mulai berbicara. Tak biasanya Om begini. Om adalah tipe orang
yang mudah berkomunikasi denganku, apapun masalanya tak hanya soal HMI. Mungkin
ini masalah penting.
“Ayahmu
mau pulang ke Indonesia, tapi ada satu alasan yang membuatnya tidak bisa,
apakah seandainya dia pulang kamu mau memaafkan dan menerimnya?”. Entah
pertanyaan atau pernyataan yang jelas keduanya dating bagai petir di siang
bolong.
“Aku
gak tau Om..” hanya itu yang bias
kujawab.
“Gak
tau bagaimana?”
“Yah
gak tau bias tau gak, kan belum kejadian..”
“Kamu
kan bukan SMA lagi, sudah mau wisuda, sudah dewasa, apalagi kamu HMI dan BPL
juga sekarang. Jadi Om percaya kamu bisa.”
“Gak
tau Om..”
“Ayahmu
itu, gak usah kamu benci, gak usah kamu hukum. Dia sudah dihukum oleh Allah.
Dia sudah cukup tersiksa. Om yakin dia selalu ingat kamu meski tanpa kamu tau.
Om saja tidak ketemu Iman sehari sudah kangen”
Aku
tak mampu lagi menjawab apa-apa. Tiba-tiba saja airmataku jatuh, semakin lama
semakin deras. Aku benar-benar berusaha menahannya. Tapi tidak bisa.
“Allah
mentakdirkan begitu nduk…mungkin agar dia menjadi contoh untuk kita semua agar
tidak melakukan hal yang sama.” Aku tetap diam. Om pun sejenak diam. Mungkin ia
memikirkan dan menyusun kata-kata yang tepat untuk melanjutkan.
“Kita
semua sayang sama kamu. Terlebih om, karna dulu Om yang paling sering gendong
kamu. Sering kena ompol mu. Tapi kan kamu sudah besar, jadi gak mungkin Om
bilang sayang gitu kan..nanti dikira pacarmu” ia tertawa. Berusaha mencairkan
suasana. Berusaha mengurangi airmataku. Mungkin.
“Ayahmu
tidak pernah pulang bukan berarti tidak rindu kami sebagai saudara dan keluarganya,
dia hanya takut kamu dan Feby tidak menerimanya”
“Kalau
mau pulang ya pulang saja om..” aku bingung harus memberi jawaban yang seperti
apa.
“Kalau
dengan Ibumu, Om fikir mereka sudah selesai dan baik-baik saja. Kan ibumu juga
sudah berkeluarga sekarang. Kalau dengan Feby, Om yakin itu tergantung kamu.
Nduk, mungkin ini sebabnya namamu Anis Kurly. Kamu tau kan artinya”
“Pandai
bersyukur..” jawabku.
“Betul..
pandai pula berterimakasih. Mungkin, ini sebab yang tidak diketahui manusia dan
alasan kenapa dulu Mbah memberimu nama ini. Nama dari Al-qur’an memang harus
berat untuk dipikul.” Ia berhenti sesaat.
“Nduk..Om
berharap kamu menerimanya bahkan memaafkannya, sulit memang.”
Tak
sempat kujawab. Tiba-tiba ada tamu datang dari kampus dimana Om mengajar.
Mungkin salah satu mahasiswanya.
“Ya
sudah, nanti kita ngobrol lagi.” Aku melangkah keluar. Kuhapus airmataku pelan.
Aku
kembali kekamar dan bertekad tak memikirkannya. Entah karna aku lelah atau
masih banyak yang harus kufikirkan. Kamar ini tetap saja nyaman meski tak
begitu keadaan hatiku sekarang. Aku menangis. Tak tertahankan. Entah apa yang
aku fikirkan. Aku hanya berusaha
mengingat kenangan yang hanya kumiliki seorang, meski tak seutuhnya aku ingat.
Tuhan, kenapa harus Ayahku? Bukan pertanyaan ini lagi yang muncul dari
kepalaku. Pertanyaan ini sudah mulai hilang sejak aku di Sekolah Dasar.
Ayah
yang membuatku rindu sejak umur 4 tahun dia meninggalkanku. Ayah yang membuatku
iri untuk pertama kalinya didunia ini, bukan karena benda apapun yang anak lain
miliki. Iya, aku tak pernah sedikitpun dan sekalipun merasa iri untuk
teman-teman yang saat aku kecil, mereka punya boneka baru, sepeda baru, ah…
bukan itu. Sungguh. Aku iri karna aku tak punya Ayah yang mereka semua miliki.
Aku iri mereka memili kenangan indah bersama Ayahnya masing-masing sedangkan
aku tidak.
Ibu,
bisakah kau memaafkan Ayah? Maafkanlah Bu..kita sepatutnya kasihan terhadapnya.
Karena Allah bu, niatkan hanya untuk-Nya. Bukankah Islam berarti tunduk dan
pasrah. Ibu harus lulus. Aku harus lulus ujian ini. Ini ujian, kita harus
lulus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar