Rabu, 25 Desember 2013

Berhenti sejenak


Indah.. Percikan hujan pagi ini tetap sama seperti hari biasanya. Dingin bagai membeku. Tapi karena ada berlembar-lembar kisah dibalik hari yang hujan, ia datang menghadirkan kehangatan. Cinta, persahabatan, keluarga, permusuhan dan berbagai macam hubungan tak tersebut lagi yang pernah menjadikan sang hujan sebagai saksi. Tapi ia selalu mentolerir, mendengar dengan senyap, melihat dengan gelap, berbicara dengan diam, mugkin juga ia menangis beberapa kali. Mungkin saja. Dan kamu, kamu selalu ada saat hujan menemani hariku. Mengalahkan indah pelangi yang akan muncul setelahnya. Warnamu seindah ketujuh warnanya. Sinarmu menggugah sinarnya, berkilau.

I’d go back to December. Even pain sometimes come and stays. But pain won’t go if you aren’t here. Even only one second. Dan aku, masi tetap berusaha memahami bahwa kamu yang belum juga mengerti. Indahnya hariku yang belum jadi indahnya harimu, aku akan menanti dengan sabar. It’s all right just wait and see. You still an innocent. Asal hujan ini tetap indah buat mu. Rain on December. Dengan lelah yang mungkin tak berakhir dalam waktu dekat, doaku selalu disana. Menyertaimu.
Beside of having a breakfast with my family, aku gak ngelakuin apa-apa setengah hari ini. Dan tak pernah sekalipun menyalahkan hujan. Karena hujan dan sajak kemaren hingga detik ini selalu beriringan. Hanya ngobrol dengan beberapa teman kos saja sembari memikirkan program kerja. Tapi bukan ini yang membuat kepalaku terasa penuh. Beberapa malam ini sengaja kumatikan ponselku. Aku hanya tak ingin diganggu sementara waktu. Seperti menunggu bom waku saja yang siap meledak. Dan ketika saatnya tiba, bahkan akupun tidak tau apa yang akan terjadi. Sampai pada kalimat terakhir paragraph ini, aku tak benar-benar tau apa yang harus kuceritakan. Maaf untuk membuang waktumu yang mungkin tengah mendengarku sekarang.
Aku hanya tetap ingin menulis. Meski tidak ada kamu. Meski tidak ada hujan. Meski tidak ada yang seistimewa kamu. Setidaknya tulisan ini keluar dari otakku yang penuh dan nantinya akan berkurang walau sedikit. Aku benar-benar stack pada titik ini. Skripsi, orang terdekat, family, organisasi, dan kamu seolah tak mau antri untuk kufikirkan satu per satu. Dan aku, seperti sudah berlari terlalu jauh. Berlari tak normal kufikir, karena tak sama dengan gadis yang seusiaku lakukan saat ini. Apa memang begini prosesku seharusnya, atau ada yang salah disana. Karena kembali sudah tak mungkin, maka aku harus melanjutkannya. Tapi sebelum itu ku hanya ingin berhenti berlari sebentar. Dan sesekali mengingatmu.
Malang, 25 Desember 2013 (11.05)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar