I’d
go back to December. Even pain sometimes come and stays. But pain won’t go if
you aren’t here. Even only one second. Dan aku, masi tetap berusaha memahami
bahwa kamu yang belum juga mengerti. Indahnya hariku yang belum jadi indahnya
harimu, aku akan menanti dengan sabar. It’s all right just wait and see. You
still an innocent. Asal hujan ini tetap indah buat mu. Rain on December. Dengan
lelah yang mungkin tak berakhir dalam waktu dekat, doaku selalu disana.
Menyertaimu.
Beside
of having a breakfast with my family, aku gak ngelakuin apa-apa setengah hari
ini. Dan tak pernah sekalipun menyalahkan hujan. Karena hujan dan sajak kemaren
hingga detik ini selalu beriringan. Hanya ngobrol dengan beberapa teman kos
saja sembari memikirkan program kerja. Tapi bukan ini yang membuat kepalaku
terasa penuh. Beberapa malam ini sengaja kumatikan ponselku. Aku hanya tak ingin
diganggu sementara waktu. Seperti menunggu bom waku saja yang siap meledak. Dan
ketika saatnya tiba, bahkan akupun tidak tau apa yang akan terjadi. Sampai pada
kalimat terakhir paragraph ini, aku tak benar-benar tau apa yang harus
kuceritakan. Maaf untuk membuang waktumu yang mungkin tengah mendengarku
sekarang.
Aku
hanya tetap ingin menulis. Meski tidak ada kamu. Meski tidak ada hujan. Meski
tidak ada yang seistimewa kamu. Setidaknya tulisan ini keluar dari otakku yang penuh
dan nantinya akan berkurang walau sedikit. Aku benar-benar stack pada titik
ini. Skripsi, orang terdekat, family, organisasi, dan kamu seolah tak mau antri
untuk kufikirkan satu per satu. Dan aku, seperti sudah berlari terlalu jauh.
Berlari tak normal kufikir, karena tak sama dengan gadis yang seusiaku lakukan
saat ini. Apa memang begini prosesku seharusnya, atau ada yang salah disana.
Karena kembali sudah tak mungkin, maka aku harus melanjutkannya. Tapi sebelum
itu ku hanya ingin berhenti berlari sebentar. Dan sesekali mengingatmu.
Malang,
25 Desember 2013 (11.05)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar