Selasa, 31 Desember 2013

Sebanyak apapun tanda tanya yang ada


29 Desember 2013
Bau cat yang basah begitu menyengat dari teras kos-an tempat kami duduk. Malam ini tak terlihat satupun kerlipan bintang, padahal langit menunjukkan wajah pekatnya yang nyata. Dan aku, meski belum bisa percaya, ingin juga menyibak awan gelap yang kau bilang ada banyak kilau bintang dibaliknya. Mungkin ia malu, ataupun tak ingin disangka ragu. Apapun itu, yang jelas hari ini berjalan begitu kaku.

Pagi ini menunjukkan ceria yang tak biasa. Meski aku harus berpisah dengan Tante Galuh dan Om Hendar yang harus terbang siang ini ke Kalimantan. Mobil itu mulai hilang diujung jalan membwa mereka. Serta sepupuku, Kaka, yang sedari kami lahir baru kali ini kami berkesempatan bertemu. Meski tak lama, namum sifat lucu Kaka membuat kami dekat begitu saja. Liburan kali ini mereka habiskan untuk mengunjungi Kaisar, kakak dari Kaka, yang mulai berkuliah di Unitri sejak setahun lalu. Dan aku, menitikkan sedikit haru terbungkus setetes airmata setelah dipeluk Tante Galuh meski ini pertama kalinya aku bertemu tentangnya. Meski aku tak tau banyak tentang Om hendar, Tante Galuh, Kaisar dan Kaka, tetap saja kami adalah saudara yang dipilihkan Tuhan untuk aku sayangi.
Sesampainya dikos setelah mereka berangkat, rumah sekejap saja menjadi sepi. Om dody, Tante Wahyu, adek Iman dan adek Furqan berangkat ke Madura untuk menjenguk Mbah putra dan Mbah putri. Karena Bude Mis, Ibu Tante Wahyu, juga ikut ke Madura maka bertambah sepilah rumah ini. Teringat kemaren Tante Galuh mengajari kami membuat Ayam Rica-Rica Ala Kalimantan, aku bersemangat dan tak sabar untuk mencoba resep itu.
Setelah membeli semua bahan, aku mulai memasak dan hanya butuh sekitar setengah jam Ayam Rica-Rica Ala Miss Kurly pun siap. Kata Bude Ti masakanku hampir sama dengan masakan Tante Galuh meski agak lebih manis he he he..
Setelah makan dan menguras keringat handphone ku berdering. Dari kak Taufiq, ia menyuruhku segera ketempat Seminar Kewirausahaan yang diadakan adik-adik komisariat. Ah.. sebenarnya aku malas, jujur saja. Tapi seperti refleks dan entah kenapa aku langsung menarik handuk, mandi dan siap-siap berangkat. Seminar itu berjalan cukup meriah dan sampailah pada momen evaluasi.
Momen itu, sekali lagi sungguh membuatku kecewa. Dan aku, entah keras kepala atau merasa terikat untuk selalu pulang ke ”rumah asal” ku itu. Ya.. adu mulut antar mereka terjadi lagi. Dan entah setan apa yang merasuki dan membuat mereka lupa untuk berfikir apa yang sepantasnya disampaikan dan yang tidak. Aku hanya mengamati dan berfikir. Kenapa mereka tak saling meredam ego untuk kemajuan rumah ini kedepannya? Kenapa mereka selalu melihat yang tak ada dan mengabaikan yang ada? Kenapa mereka bertingkah seperti tak bisa menjadi panutan yang baik untuk adik-adiknya? Kenapa semua dari mereka menggunakan kepintaran mereka untuk menentang satu sama lain? Kepalaku penuh dengan pertanyaan yang tidak akan terjawab apalagi terwujud.
Aku mencoba melerai mereka dengan tidak ikut-ikutan menggebrak meja ataupun meninggikan suara. Aku hanya berharap mereka tetap dewasa menjalankan estafet perjuangan ini. Tetap merasa terikat meski bebas melakukan apa yang mereka inginkan. Tidak menunggu dan membuang waktu untuk merunut kronologi untuk mencari apa dan siapa yang salah. Aku hanya ingin mereka ambil alih apa yang saudaranya tidak bisa lakukan, mengerti dan menutupi kekurangan saudaranya meski tak harus berbicara, saling memahami dan mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan mereka. Dan harapan itulah yang bisa kuperjuangkan meski mereka mungkin tak akan pernah paham.
Malam ini aku mencoba mengingat semua hal ini. Aku dan beberapa teman kos duduk dengan perut kenyang setelah melahap apa saja yang ada di atas meja. Sembari sesekali berlempar senyum dengan gurauan yang tak kunjung habis. Ada saja alasan untuk kami tertawakan.
Dan ini kutulis dengan perasaan yang tak tau harus kunamai apa. Tapi kagumku, akan selalu tersampaikan untukmu. Untuk ‘embun’ yang selalu membuatmu jatuh cinta setiap pagi. Untukmu yang tak mengerti bagaimana kau harus mendefenisikan cinta, karena goresan pena mu terlalu teburu-buru mendefenisikannya. Dan tatkala kudefenisikan cinta panjang lebar, namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri. Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai pada cinta. Dan kau, aku, kita seperti keledai yang terkulai berbaring dalam lumpur.
Karena tanpa lidah ternyata cinta lebih terang. Sebanyak apapun tanda tanya yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar