Bau
cat yang basah begitu menyengat dari teras kos-an tempat kami duduk. Malam ini
tak terlihat satupun kerlipan bintang, padahal langit menunjukkan wajah
pekatnya yang nyata. Dan aku, meski belum bisa percaya, ingin juga menyibak
awan gelap yang kau bilang ada banyak kilau bintang dibaliknya. Mungkin ia
malu, ataupun tak ingin disangka ragu. Apapun itu, yang jelas hari ini berjalan
begitu kaku.
Pagi
ini menunjukkan ceria yang tak biasa. Meski aku harus berpisah dengan Tante
Galuh dan Om Hendar yang harus terbang siang ini ke Kalimantan. Mobil itu mulai
hilang diujung jalan membwa mereka. Serta sepupuku, Kaka, yang sedari kami
lahir baru kali ini kami berkesempatan bertemu. Meski tak lama, namum sifat
lucu Kaka membuat kami dekat begitu saja. Liburan kali ini mereka habiskan
untuk mengunjungi Kaisar, kakak dari Kaka, yang mulai berkuliah di Unitri sejak
setahun lalu. Dan aku, menitikkan sedikit haru terbungkus setetes airmata
setelah dipeluk Tante Galuh meski ini pertama kalinya aku bertemu tentangnya.
Meski aku tak tau banyak tentang Om hendar, Tante Galuh, Kaisar dan Kaka, tetap
saja kami adalah saudara yang dipilihkan Tuhan untuk aku sayangi.
Sesampainya
dikos setelah mereka berangkat, rumah sekejap saja menjadi sepi. Om dody, Tante
Wahyu, adek Iman dan adek Furqan berangkat ke Madura untuk menjenguk Mbah putra
dan Mbah putri. Karena Bude Mis, Ibu Tante Wahyu, juga ikut ke Madura maka
bertambah sepilah rumah ini. Teringat kemaren Tante Galuh mengajari kami
membuat Ayam Rica-Rica Ala Kalimantan, aku bersemangat dan tak sabar untuk
mencoba resep itu.
Setelah
membeli semua bahan, aku mulai memasak dan hanya butuh sekitar setengah jam
Ayam Rica-Rica Ala Miss Kurly pun siap. Kata Bude Ti masakanku hampir sama
dengan masakan Tante Galuh meski agak lebih manis he he he..
Setelah
makan dan menguras keringat handphone ku berdering. Dari kak Taufiq, ia
menyuruhku segera ketempat Seminar Kewirausahaan yang diadakan adik-adik
komisariat. Ah.. sebenarnya aku malas, jujur saja. Tapi seperti refleks dan
entah kenapa aku langsung menarik handuk, mandi dan siap-siap berangkat.
Seminar itu berjalan cukup meriah dan sampailah pada momen evaluasi.
Momen
itu, sekali lagi sungguh membuatku kecewa. Dan aku, entah keras kepala atau
merasa terikat untuk selalu pulang ke ”rumah
asal” ku itu. Ya.. adu mulut antar mereka terjadi lagi. Dan entah setan apa
yang merasuki dan membuat mereka lupa untuk berfikir apa yang sepantasnya
disampaikan dan yang tidak. Aku hanya mengamati dan berfikir. Kenapa mereka tak
saling meredam ego untuk kemajuan rumah ini kedepannya? Kenapa mereka selalu
melihat yang tak ada dan mengabaikan yang ada? Kenapa mereka bertingkah seperti
tak bisa menjadi panutan yang baik untuk adik-adiknya? Kenapa semua dari mereka
menggunakan kepintaran mereka untuk menentang satu sama lain? Kepalaku penuh
dengan pertanyaan yang tidak akan terjawab apalagi terwujud.
Aku
mencoba melerai mereka dengan tidak ikut-ikutan menggebrak meja ataupun
meninggikan suara. Aku hanya berharap mereka tetap dewasa menjalankan estafet
perjuangan ini. Tetap merasa terikat meski bebas melakukan apa yang mereka
inginkan. Tidak menunggu dan membuang waktu untuk merunut kronologi untuk
mencari apa dan siapa yang salah. Aku hanya ingin mereka ambil alih apa yang
saudaranya tidak bisa lakukan, mengerti dan menutupi kekurangan saudaranya
meski tak harus berbicara, saling memahami dan mementingkan kepentingan bersama
di atas kepentingan mereka. Dan harapan itulah yang bisa kuperjuangkan meski
mereka mungkin tak akan pernah paham.
Malam
ini aku mencoba mengingat semua hal ini. Aku dan beberapa teman kos duduk
dengan perut kenyang setelah melahap apa saja yang ada di atas meja. Sembari
sesekali berlempar senyum dengan gurauan yang tak kunjung habis. Ada saja
alasan untuk kami tertawakan.
Dan
ini kutulis dengan perasaan yang tak tau harus kunamai apa. Tapi kagumku, akan
selalu tersampaikan untukmu. Untuk ‘embun’ yang selalu membuatmu jatuh cinta
setiap pagi. Untukmu yang tak mengerti bagaimana kau harus mendefenisikan
cinta, karena goresan pena mu terlalu teburu-buru mendefenisikannya. Dan
tatkala kudefenisikan cinta panjang lebar, namun jika cinta kudatangi aku jadi
malu pada keteranganku sendiri. Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai
pada cinta. Dan kau, aku, kita seperti keledai yang terkulai berbaring dalam
lumpur.
Karena
tanpa lidah ternyata cinta lebih terang. Sebanyak apapun tanda tanya yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar