Pagi ini aku memutuskan untuk bergabung dengan
teman-teman masa aksi lain untuk memperingati hari HAM dan anti narkoba. Jam
8.00 pagi aku duduk menunggu mereka disamping perspustakaan kampus, dan sudah
bisa ditebak tak satupun dari mereka yang dapat kulihat. Apalagi kalau
bukan molor. Ah.. mereka ini mau
meneriakkan anti korupsi tapi mereka terbiasa mengkorupsi waktu. Sekitar
pukul 9.00 baru mereka mulai muncul satu
persatu. Kuliahku yang seharusnya jam 10.20, ahh.. kupikir ini lebih penting.
Entah sudah berapa kali aku meninggalkan kuliah untuk, kata orang, sia-sia berteriak-teriak
dijalanan. Hanya saja bagiku, saat-saat seperti inilah aku merasa menjadi
mahasiswa sungguhan. Kampus lalu ke kantor walikota, inilah rute aksi hari ini.
Sembari berjalan menuju truk yang akan mengangkut
kami, aku dan kak Dayat, bendum HMI Korkom membeli minum untuk masa aksi dan
akhirnya tidak kebagian truk. Setelah menunggu motor setengah jam lamanya, aku
dan kak Dayat bergegas menyusul masa aksi lain. Sesampainya di TKP, kulihat
begitu banyak mahasiswa dari berbagai kampus sudah disana. Kami pun bergabung,
menyalami teman-teman lain yang kami kenal maupun tidak. Beberapa mahasiswa
mulai bergiliran meneriakkan kalimat-kalimat memotivasi yang tak segan diiringi
rasa marah.
Mungkin kata orang apa yang kami lakukan ini sia-sia.
Mungkin juga hanya untuk eksistensi belaka. Tapi dengarlah, inilah cerita yang
ingin kuceritakan, bukan tentang pandangan kalian. Sedikit cerita dari sudut
pandang yang sedikit berbeda. Teriakan yang kami dengarkan mungkin berbeda.
Dalam apa yang kalian anggap kesia-siaan ini kami
sisihkan waktu kami untuk berpana-panas meneriakkan hak-hak orang lain, apa
untungnya buat kami? Diterik panasnya matahari, kami yang tanpa pelindung hanya
berniat menyadarkan bahwa ada oranglain yang dirugikan, apa untungnya buat
kami? Diantara teman-teman mahasiswa lain yang kini mungkin tengah duduk
mendengarkan ceramah dosen dikelas, kami ingin kalian sebentar saja
mendengarkan ceramah kami tentang bagaimana para orang-orang bejat itu
mengambil hak-hak anak kecil. Bahkan anak-anak itu, janganan bersekolah,
makanpun mereka tak mampu! Lantas apa untungnya buat kami? Bahkan terkadang
kami harus rela melawan polisi, terluka, apa untungnya? Bisakah kalian sedikit
membantu kami untuk menjawab?
Sampai pada paragraph ini, aimataku tak sanggup lagi
kutahan. Aku, yang kata teman-temanku terlalu idealis ini hanya tak bisa
tinggal diam dan menangis sementara anak-anak malang diluar sana tetap
kelaparan. Kalian yang mampu duduk di bangku sekolah, yang selalu mampu membeli
baju bahkan hanya karna kalian ingin, yang selalu memilih jenis makanan berbeda
setiap hari, yang bisa saja merengek pada orangtua untuk dikirimi uang setiap
bulan dan hal-hal lain yang selama ini kalian miliki. Apa untungnya buatku?
Tidak ada teman.
Aku hanya membantu meneriakkan hak-hak mereka, yang
tak seberuntung kita. Sia-sia kalian bilang..aku tetap tak peduli. Hanya satu
hal yang harus kita fikirkan, bagaimaa anak-anak yang uangnya dirampas para
pejabat bejat disana mampu untuk setidaknya duduk menikmati pendidikan, wahai
para guru.. ajarkanlah mereka untuk memilih mana yang salah dan mana yang benar
agar mereka, generasi muda ini kelak tidak menjadi bajingan-bajingan di
negerinya sendiri. Mereka yang bahkan tak tau lagi apa warna bajunya, bagian
mana lagi yang harus ditambal, mereka berhak mendapat kain yang layak untuk
menutupi badan itu di tengah dingin ujan dan terik matahari. Wahai penguasa,
pernahkah kau fikirkan ini? Wahai teman-temanku, aku bahkan rela kau panggil
idealis dengan tertawaan kecil, tak mengapa, hanya tetap tak mengurangi inginku
untuk membantu menjadi penyambung lidah-lidah tak berdosa yang tak berdaya
berteriak bahwa mereka lapar! Apa untungnya buatku?
Teriakan itu terus berlanjut dan lamunanku
ditengah-tengah para pejuang ini buyar seketika. Ada yang menarik tanganku dari
belakang, tersenyum tanpa rasa bersalah. Samuel, teman yang selalu akrab
ditengah-tengah aksi kita. Dia datang terlambat dengan alasan bangun kesiangan
padahal semalam ia yang mengingatkan untuk tidak datang terlambat. Ia
mengajakku minum es degan sembari meminta maaf. Kami, aku, Samuel dan
teman-teman Psikologi UMM menuju penjual es degan. Bercengkrama sejenak melepas
lelah.
Inilah akhir aksi kami hari ini. Meski setelah
mendengar sedikit ceritaku kalian tetap menganggap ini sia-sia, jangan harap
kami berhenti. Perjuangan masih panjang. Bahkan bila harus terjun ke gelanggang
meski hanya seorang!
Puisiku untuk malaikat kecil berbaju compang-camping
calon penghuni surga:
Tidak pernahkah kalian lihat sedikit lebih lama
Untuk merasakan lidah-lidah yang seolah tak bernyawa
Adik kecil, dunia tak sekejam alam dan seisinya
Berdoalah, bahwa tangismu didunia akan dibalas surga..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar