Selasa, 10 Desember 2013

Puisiku untuk malaikat kecil berbaju compang-camping calon penghuni surga..


Hari ini seperti biasa, tak ada yang istimewa kecuali kasih sayang Tuhan yang masih utuh untukku. Siang ini matahari nampak enggan menunjukkan sikap, ia tak redup tapi juga tak cerah. Angin pun seolah enggan bertiup, tak taukah ia bahwa ranting dan daun tengah menunggunya. Siang ini aku tak lagi ada dikamar ku. Sejenak namun aku kembali lagi. Ruang yang cukup berantakan itu memang selalu nyaman untuk ditinggali.

Pagi ini aku memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman masa aksi lain untuk memperingati hari HAM dan anti narkoba. Jam 8.00 pagi aku duduk menunggu mereka disamping perspustakaan kampus, dan sudah bisa ditebak tak satupun dari mereka yang dapat kulihat. Apalagi kalau bukan  molor. Ah.. mereka ini mau meneriakkan anti korupsi tapi mereka terbiasa mengkorupsi waktu. Sekitar pukul  9.00 baru mereka mulai muncul satu persatu. Kuliahku yang seharusnya jam 10.20, ahh.. kupikir ini lebih penting. Entah sudah berapa kali aku meninggalkan kuliah untuk,  kata orang, sia-sia berteriak-teriak dijalanan. Hanya saja bagiku, saat-saat seperti inilah aku merasa menjadi mahasiswa sungguhan. Kampus lalu ke kantor walikota, inilah rute aksi hari ini.
Sembari berjalan menuju truk yang akan mengangkut kami, aku dan kak Dayat, bendum HMI Korkom membeli minum untuk masa aksi dan akhirnya tidak kebagian truk. Setelah menunggu motor setengah jam lamanya, aku dan kak Dayat bergegas menyusul masa aksi lain. Sesampainya di TKP, kulihat begitu banyak mahasiswa dari berbagai kampus sudah disana. Kami pun bergabung, menyalami teman-teman lain yang kami kenal maupun tidak. Beberapa mahasiswa mulai bergiliran meneriakkan kalimat-kalimat memotivasi yang tak segan diiringi rasa marah.
Mungkin kata orang apa yang kami lakukan ini sia-sia. Mungkin juga hanya untuk eksistensi belaka. Tapi dengarlah, inilah cerita yang ingin kuceritakan, bukan tentang pandangan kalian. Sedikit cerita dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Teriakan yang kami dengarkan mungkin berbeda.
Dalam apa yang kalian anggap kesia-siaan ini kami sisihkan waktu kami untuk berpana-panas meneriakkan hak-hak orang lain, apa untungnya buat kami? Diterik panasnya matahari, kami yang tanpa pelindung hanya berniat menyadarkan bahwa ada oranglain yang dirugikan, apa untungnya buat kami? Diantara teman-teman mahasiswa lain yang kini mungkin tengah duduk mendengarkan ceramah dosen dikelas, kami ingin kalian sebentar saja mendengarkan ceramah kami tentang bagaimana para orang-orang bejat itu mengambil hak-hak anak kecil. Bahkan anak-anak itu, janganan bersekolah, makanpun mereka tak mampu! Lantas apa untungnya buat kami? Bahkan terkadang kami harus rela melawan polisi, terluka, apa untungnya? Bisakah kalian sedikit membantu kami untuk menjawab?
Sampai pada paragraph ini, aimataku tak sanggup lagi kutahan. Aku, yang kata teman-temanku terlalu idealis ini hanya tak bisa tinggal diam dan menangis sementara anak-anak malang diluar sana tetap kelaparan. Kalian yang mampu duduk di bangku sekolah, yang selalu mampu membeli baju bahkan hanya karna kalian ingin, yang selalu memilih jenis makanan berbeda setiap hari, yang bisa saja merengek pada orangtua untuk dikirimi uang setiap bulan dan hal-hal lain yang selama ini kalian miliki. Apa untungnya buatku? Tidak ada teman.
Aku hanya membantu meneriakkan hak-hak mereka, yang tak seberuntung kita. Sia-sia kalian bilang..aku tetap tak peduli. Hanya satu hal yang harus kita fikirkan, bagaimaa anak-anak yang uangnya dirampas para pejabat bejat disana mampu untuk setidaknya duduk menikmati pendidikan, wahai para guru.. ajarkanlah mereka untuk memilih mana yang salah dan mana yang benar agar mereka, generasi muda ini kelak tidak menjadi bajingan-bajingan di negerinya sendiri. Mereka yang bahkan tak tau lagi apa warna bajunya, bagian mana lagi yang harus ditambal, mereka berhak mendapat kain yang layak untuk menutupi badan itu di tengah dingin ujan dan terik matahari. Wahai penguasa, pernahkah kau fikirkan ini? Wahai teman-temanku, aku bahkan rela kau panggil idealis dengan tertawaan kecil, tak mengapa, hanya tetap tak mengurangi inginku untuk membantu menjadi penyambung lidah-lidah tak berdosa yang tak berdaya berteriak bahwa mereka lapar! Apa untungnya buatku?
Teriakan itu terus berlanjut dan lamunanku ditengah-tengah para pejuang ini buyar seketika. Ada yang menarik tanganku dari belakang, tersenyum tanpa rasa bersalah. Samuel, teman yang selalu akrab ditengah-tengah aksi kita. Dia datang terlambat dengan alasan bangun kesiangan padahal semalam ia yang mengingatkan untuk tidak datang terlambat. Ia mengajakku minum es degan sembari meminta maaf. Kami, aku, Samuel dan teman-teman Psikologi UMM menuju penjual es degan. Bercengkrama sejenak melepas lelah.
Inilah akhir aksi kami hari ini. Meski setelah mendengar sedikit ceritaku kalian tetap menganggap ini sia-sia, jangan harap kami berhenti. Perjuangan masih panjang. Bahkan bila harus terjun ke gelanggang meski hanya seorang!

Puisiku untuk malaikat kecil berbaju compang-camping calon penghuni surga:

Tidak pernahkah kalian lihat sedikit lebih lama
Untuk merasakan lidah-lidah yang seolah tak bernyawa
Adik kecil, dunia tak sekejam alam dan seisinya
Berdoalah, bahwa tangismu didunia akan dibalas surga..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar