Rabu, 25 Desember 2013

Kamu itu...


Pagi ini, iya… masih saja dengan embun nya yang siap menyuruhku untuk tetap nyaman berada dibawah selimut. Aku kaget bukan kepalang saat ada yang mengetuk, lebih pantas disebut menggedor, pintu kamarku. Siapa lagi kalau bukan Om ku. Hari ini dia ambul cuti untuk mengajar. Dan mengancurkan mimpi ku yang langsung lenyap tak kuingat, munkin karna aku langsung loncat membuka pintu tadi. Aissh… belum juga mataku terbuka sempurna ia menyuruhku untuk segera keluar. Makan bersama. Ada apa fikirku. Memang aku dan Om tak jarang menghabiskan makan pagi dan makan malam bersama. Tapi sejak beberapa minggu belakangan Om begitu sibuk. Entah untuk urusan kampusnya atau lainnya. Ada apa pagi ini?

Aku tak sempat kekamar mandi untuk sekedar mencuci mukaku apalagi menggosok gigi. Aku tak mau ambil resiko ada penggedoran kedua kalinya. Kuambil jaket abu-abuku syal cream  yang kulilitkan dileher sekenanya. Kupandangi cermin sejenak dan kufikir mungkin mereka akan tau aku baru bangun. Tergambar jelas dari mataku yang selalu nampak sipit seusai bangun tidur meski aku tak ada keturunan Cina. Sial.. ini gara-gara aku keasyikan main game sampai jam setengah dua. Sampai-sampai aku tak adar tertidur masih menggunakan celana jeans ini.
Aku berlari-lari kecil menuju rumah om. Ramai. Ternyata Om Hendar, adik dari Ayah yang sekarang menjadi dosen di Kalimantan, datang lengkap beserta istri dan anaknya. Aku mencium tangan Om dan Tante setelah itu meminta maaf karena tidak bisa ikut makan. Sudah seminggu ini amandel ku kumat. Jangankan makan, untuk minum saja sulitnya minta ampun. Om Dody, Om kesayanganku yang sering aku ceritakan, langsung mengambilkan aku air hangat ditambah sedikit garam untuk kuminum. Aku tak pernah bisa marah dengan Om ku yang satu ini, bukan karna dia ganteng, penyayang atau apalah. Tapi karna kadang aku merasa disaat-saat tertentu ia selalu menggantikan posisi Ayah.
Setelah air hangat yang asinnya bukan main itu kutenggak habis, aku segera kekamar mandi untuk sikat gigi. Kemudian di panggil oleh Om Jenny, Om yang selalu jadi guru HMI dan guru spiritual buatku. Ia, menyampaikan kabar yang langsung membuat leherku tercekat, melebihi sakit amandel ini. Tapi bukan ini yang hendak kuceritakan, sungguh. Sejujurnya hal ini adalah hal penting yang sangat ingin kuceritakan, tapi mungkin lain waktu saja. Karna ada hal yang sedikit mengganjal yang entah datangnya darimana, hal tentang kamu.
Jujur saja pesan singkat yang kukirim sebelum senja kemarin, bukan tanpa usaha apa-apa. Bukan tanpa fikir panjang untuk takut mengusikmu dan mengalihkanmu dari tumpukan aktifitamu itu. Tetap saja pesan itu kukirim. Aisshhhh… aku seharusnya tak hanya memikirkan itu. Seharusnya aku juga memikirkan bagaimana jika aku hilang arah lagi, bagaimana jika aku terjatuh dan sulit bangkit lagi, bagaimana dan bagaiamana. Bodohnya aku belum sempat memikirkan itu. Memikirkan diriku sendiri. Aku tak menyalahkanmu karena kau yang memulai pesan singkat bertuliskan namaku kemaren.
Seorang pelaut hanya akan sampai dan berpijak pada pulau tujuannya. Tidak ada tujuan lain yang dapat menyilaukannya. Nasehat dari Om itu yang kupercaya selama ini. Tapi kau, masuk begitu saja. Begitu berkilau, sulit kuhindarkan. Kau lebih dari sekedar tujuan. Seperti oase ditengah gurun pasir nan gersang. Seperti tabung oksigen saat aku kehabisan nafas. Seperti dua burung peliharaan Om yang menghiburku saat aku terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam didepan laptop. Seperti daun yang terlepas dari dahan yang siap mengalihkan pandanganku. Saat kau ada, seolah bukan gravitasi bumi yang menahanku didunia ini, tapi kau.
Aku bukannya tak sibuk untuk selalu teringat tentangmu. Bukan. Raker KORKOM yang entah dimulai kapan, dengan konsep seperti apa, belum lagi BPL yang sekarang sedang genting, tak menjadi alasan aku tak memikirkanmu. Sungguh. Jujur saja aku sudah cukup dipusingkan dengan hal-hal itu. Sampai-sampai kesehatanku tak kufikirkan. Seharusnya kujdwalkan check up karena amandel ini mulai terasa mengganggu. Tiap malam terpaksa kuminum bergelas-gelas kopi untuk menahan mata dan menguras fikiran. Kau tak ada apa-apanya disbanding cintaku untuk himpunan ini. Karna tujuan kami, aku paham betul bukan berorientasi duniawi. Tapi kau, karena kau oase itu, lantas apa yang bisa kulakukan.
Pukul 10.17, sehari setelah hari ibu. Dan aku masih berkutik dengan hidup yang begini-begini saja. Masalah BPL, KORKOM, dan Ayahku sudah cukup berat kupikul dengan pundak sekecil ini. Tapi jujur masih ada harapan jika aku berfikir oase itu adalah kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar