Aku
tak sempat kekamar mandi untuk sekedar mencuci mukaku apalagi menggosok gigi.
Aku tak mau ambil resiko ada penggedoran kedua kalinya. Kuambil jaket abu-abuku
syal cream yang kulilitkan dileher
sekenanya. Kupandangi cermin sejenak dan kufikir mungkin mereka akan tau aku
baru bangun. Tergambar jelas dari mataku yang selalu nampak sipit seusai bangun
tidur meski aku tak ada keturunan Cina. Sial.. ini gara-gara aku keasyikan main
game sampai jam setengah dua. Sampai-sampai aku tak adar tertidur masih
menggunakan celana jeans ini.
Aku
berlari-lari kecil menuju rumah om. Ramai. Ternyata Om Hendar, adik dari Ayah
yang sekarang menjadi dosen di Kalimantan, datang lengkap beserta istri dan
anaknya. Aku mencium tangan Om dan Tante setelah itu meminta maaf karena tidak
bisa ikut makan. Sudah seminggu ini amandel ku kumat. Jangankan makan, untuk
minum saja sulitnya minta ampun. Om Dody, Om kesayanganku yang sering aku
ceritakan, langsung mengambilkan aku air hangat ditambah sedikit garam untuk
kuminum. Aku tak pernah bisa marah dengan Om ku yang satu ini, bukan karna dia
ganteng, penyayang atau apalah. Tapi karna kadang aku merasa disaat-saat
tertentu ia selalu menggantikan posisi Ayah.
Setelah
air hangat yang asinnya bukan main itu kutenggak habis, aku segera kekamar
mandi untuk sikat gigi. Kemudian di panggil oleh Om Jenny, Om yang selalu jadi
guru HMI dan guru spiritual buatku. Ia, menyampaikan kabar yang langsung
membuat leherku tercekat, melebihi sakit amandel ini. Tapi bukan ini yang
hendak kuceritakan, sungguh. Sejujurnya hal ini adalah hal penting yang sangat
ingin kuceritakan, tapi mungkin lain waktu saja. Karna ada hal yang sedikit
mengganjal yang entah datangnya darimana, hal tentang kamu.
Jujur
saja pesan singkat yang kukirim sebelum senja kemarin, bukan tanpa usaha
apa-apa. Bukan tanpa fikir panjang untuk takut mengusikmu dan mengalihkanmu
dari tumpukan aktifitamu itu. Tetap saja pesan itu kukirim. Aisshhhh… aku
seharusnya tak hanya memikirkan itu. Seharusnya aku juga memikirkan bagaimana
jika aku hilang arah lagi, bagaimana jika aku terjatuh dan sulit bangkit lagi,
bagaimana dan bagaiamana. Bodohnya aku belum sempat memikirkan itu. Memikirkan
diriku sendiri. Aku tak menyalahkanmu karena kau yang memulai pesan singkat
bertuliskan namaku kemaren.
Seorang
pelaut hanya akan sampai dan berpijak pada pulau tujuannya. Tidak ada tujuan lain
yang dapat menyilaukannya. Nasehat dari Om itu yang kupercaya selama ini. Tapi
kau, masuk begitu saja. Begitu berkilau, sulit kuhindarkan. Kau lebih dari
sekedar tujuan. Seperti oase ditengah gurun pasir nan gersang. Seperti tabung
oksigen saat aku kehabisan nafas. Seperti dua burung peliharaan Om yang
menghiburku saat aku terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam didepan laptop. Seperti
daun yang terlepas dari dahan yang siap mengalihkan pandanganku. Saat kau ada,
seolah bukan gravitasi bumi yang menahanku didunia ini, tapi kau.
Aku
bukannya tak sibuk untuk selalu teringat tentangmu. Bukan. Raker KORKOM yang
entah dimulai kapan, dengan konsep seperti apa, belum lagi BPL yang sekarang
sedang genting, tak menjadi alasan aku tak memikirkanmu. Sungguh. Jujur saja
aku sudah cukup dipusingkan dengan hal-hal itu. Sampai-sampai kesehatanku tak
kufikirkan. Seharusnya kujdwalkan check up karena amandel ini mulai terasa
mengganggu. Tiap malam terpaksa kuminum bergelas-gelas kopi untuk menahan mata
dan menguras fikiran. Kau tak ada apa-apanya disbanding cintaku untuk himpunan
ini. Karna tujuan kami, aku paham betul bukan berorientasi duniawi. Tapi kau,
karena kau oase itu, lantas apa yang bisa kulakukan.
Pukul
10.17, sehari setelah hari ibu. Dan aku masih berkutik dengan hidup yang
begini-begini saja. Masalah BPL, KORKOM, dan Ayahku sudah cukup berat kupikul
dengan pundak sekecil ini. Tapi jujur masih ada harapan jika aku berfikir oase
itu adalah kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar